Pengaruh Lemak Terhadap kesehatan

Rabu, 02 Mei 2012

Laporan Klinik Rutin

ANALISIS BATU GINJAL Pemeriksaan Mikroskopis A. Tujuan Untuk mengetahui diet pasien batu ginjal B. Metode Titimetri dan perubahan warna C. Prinsip Batu diamati ukuran / berat, jumlah batu, bentuk permukaan, warna dan konsistensinya. D. Dasar Teori Batu saluran kemih (BSK) atau urolithiasis merupakan keadaan patologis yang sering dipermasalahkan baik dari segi kejadian (insidens), etiologi, patogenesis maupun dari segi pengobatan. Kejadian (insidens), maupun komposisi batu penderita BSK ini tidak sama diberbagai belahan bumi, bervariasi menurut suku bangsa dan geografi, selain itu setiap peneliti mengemukakan angka yang berbeda-beda. Walaupun demikian, untuk komposisi batu diperoleh kesan bahwa batu kalsium oksalat merupakan jenis batu yang paling banyak dijumpai. Di Amerika Serikat, sekitar 250.000 sampai 750.000 penduduknya menderita BSK setiap tahun, di seluruh dunia rata-rata terdapat 1 sampai 12%. Kejadian pada pria empat kali lebih tinggi daripada wanita, kecuali untuk batu amonium magnesium fosfat (struvit), lebih sering terdapat di wanita. Usia rata-rata BSK terjadi pada usia 30 sampai 50 tahun (Ratu, dkk, 2010). Di Indonesia, penderita BSK masih banyak, tetapi data lengkap kejadian penyakit ini masih belum banyak dilaporkan. Hardjoeno dkk1 di Makassar (1977–1979) menemukan 297, Rahardjo dkk (1979–1980) 245 penderita BSK, Puji Rahardjo dari RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo menyatakan penyakit BSK yang diderita penduduk Indonesia sekitar 0,5%, bahkan di RS PGI Cikini menemukan sekitar 530 orang penderita BSK pertahun.Sementara Rusfan dkk9 (Makassar, 1997–1998) melaporkan adanya 50 kasus. Penyebab pasti yang membentuk BSK belum diketahui, oleh karena banyak faktor yang dilibatkannya. Diduga dua proses yang terlibat dalam BSK yakni supersaturasi dan nukleasi. Supersaturasi terjadi jika substansi yang menyusun batu terdapat dalam jumlah besar dalam urin, yaitu ketika volume urin dan kimia urin yang menekan pembentukan batu menurun. Pada proses nukleasi, natrium hidrogen urat, asam urat dan kristal hidroksipatit membentuk inti. Ion kalsium dan oksalat kemudian merekat (adhesi) di inti untuk membentuk campuran batu. Proses ini di namakan nukleasi heterogen. Analisis batu yang memadai akan membantu memahami mekanisme patogenesis BSK dan merupakan tahap awal dalam penilaian dan awal terapi pada penderita BSK (Ratu, dkk, 2010). Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat atau kalsium fosfat, asam urat, magnesium amonium fosfat (MAP), Xanthin dan sistin. BSK mempunyai komponen dasar kalsium sekitar 75% berupa kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran oksalat dan fosfat. Identifikasi BSK dapat dilakukan dengan analisis batu, sehingga jenis dan komposisi batu dapat diketahui. BSK cenderung mengambuh, rata- rata kekambuhan terjadi 50% dalam 5 tahun dan 70% dalam 10 tahun. Sehingga identifikasi penyebab timbulnya batu yang pertama adalah penting untuk pencegahan kerusakan ginjal lebih lanjut. Data kandungan/komposis zat yang terdapat di batu sangat penting untuk upaya pencegahan kemungkinan timbulnya batu kambuhan (Ratu, dkk.2010). E. Alat dan Bahan 1. Alat: a. Timbangan Analitik b. Mortar dan mortil 2. Bahan: Batu ginjal F. Prosedur Kerja 1. Alat dan bahan yang diperlukan disiapkan pada meja praktikkum. 2. Sampel batu dicuci dengan aquadest apabila masih ada sisa darah. 3. Dihitung jumlah sampel batu 4. Sampel batu ditimbang dengan neraca analitik. 5. Diamati warna dan permukaan sampel batu. 6. Kemudian ambil sebagian sampel sampel batu dan dihancurkan kekerasannya dengan mortal dan mortil untuk diketahui teksturnya keras atau rapuh dan dihaluskan untuk analisa kimia. Pemeriksaan Kimiawi A. Tujuan Untuk mengetahui kadar kandungan persenyawaan yang ada pada batu ginjal B. Metode Titimetri C. Prinsip Titimetri dan perbandingan warna yang terjadi dengan standar warna yang ada. D. Dasar Teori Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis) (Wiki, 2012). Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal (Wiki, 2012). Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisis air kemih rutin (urinalisis). Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas. Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti. Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu. Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit. Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi retrograd (Wiki, 2012). E. Alat dan Bahan 1. Alat - Mortal dan mortil - Tabung Reaksi dan raknya - Beaker glass 2. Bahan - Batu ginjal - Reagen : Reagen kit Merckognost F. Prosedur Kerja 1. Setelah dilakukan pemeriksaan makroskopis dan fisika batu ginjal, kemudian batu ginjal dihancurkan dan dihancurkan agar homogen. 2. Kemudian ditambahkan dengan sedikit aquades. 3. Diukur pH dengan ph meter atau ph universal. 4. Ukur pH dengan cara mencelupkan kertas ph ke dalam sampel yang sudah dilarutkan dengan aquades, dan dibaca ph-nya 5. Ditambahkan dengan beberapa tetas asam sulfat untuk mengetahui adanya karbonat. 6. Diamati terbentuknya gelembung gas, jika terjadi gelembung maka sampel positif CO2. Pemeriksaan ini didasarkan atas terjadinya reaksi antara CO3 dengan H2SO4 yang menghasilkan CO2 yang diamati adalah gelembungnya. 7. Ditambahkan dengan aquades steril sampai volume 10 ml. 8. Disiapkan 7 tabung untuk reaksi analisis kation-kation penyusun batu ginjal. 9. Tabung diisi dengan larutan sampel sampai tanda batas kemudian ditambah aquadest ± 5ml. 10. Selanjutnya dikerjakan dengan menambahkan reagen menurut buku petunjuk panduan pemeriksaan batu ginjal pada test kist: a. Analisis adanya Calsium Prinsip pemeriksaan Prinsip pemeriksaan kalsium dalam batu ginjal terbentuknya kompleks ungu antara Ca2+ dengan calein carboksilicacid. Titrasi dengan EDTA menyebabkan terbentuknya kompleks CaEDTA. Titik akhir titrasi ditanadai dengan terbentuknya warna biru. Cara Kerja: Reagen 2 : sodium hydroxide solution 27% Reagen 3 : calconcarboxylic acid trituration Reagen 4 : titriplex III solution Prosedur kerja : 1) Sampel ditambah dengan dua tetes reagen 2, kemudian kocok. 2) Ditambah dengan satu sendok spatula putih reagen 3, kemudian kocok hingga rata. 3) Tambahkan tetes demi tetes reagen 4 sampai warna menjadi biru (cara meneteskan dengan 2 tetes pertama, 2 tetes kedia, dan seterusnya, maksimal 10 tetes). 4) Hasil dikalkulasikan yaitu satu tetes setara dengan 5% calcium b. Analisis oksalat Prinsip pemeriksaan : Terbentuknya kompleks berwarna antara kelebihan ferri yang digunakan untuk bereaksi dengan oksalat dengan asam sulfosalisilat. Reagen 5 : Borate buffer solution Reagen 6 : Iron (III) chloride solution Reagen 7 : Sulfosalicylic acid solution Prosedur kerja : 1) Pada sampel ditambahkan dengan dua tetes reagen 5, kemudian dikocok. c. Kemudian tambahkan tiga tetes reagen 6, kemudian dikocok sampai homogen. 2) Setelah itu teteskan 3 tetes reagen 7, kocok sampai homogen. 3) Kemudian inkubasi selama 2 menit. 4) Hasil dibandingkan dengan skala warna yang tersedia. d. Analisis adanya Ammonium Prinsip Pemeriksaan Terbentuknya kompleks antara ammonium dengan K2(HgI4) dalam suasana basa. Warna yang terbentuk dibandingkan dengan standar warna yang ada. Cara Kerja 1. Pada sampel solution ditambah tiga tetes potassium tetraloromercurate II ditambah dengan tiga tetes NaOH 27%. 2. Dibandingkan dengan skala warna yang ada. e. Analisis adanya Fosfat Prinsip Pemeriksaan: Prinsip pemeriksaan adalah terbentuknya kompleks berwarna antara kelebihan ferri yang digunakan untuk bereaksi dengan oksalat dengan asam sulfosalisilat. Cara Kerja: Reagen 9: Ammonium molibdat solution Reagen 10: Reduction solution (4-methyl-aminophenol sulfate, sodium disulfite) Prosedur kerja: 1) Pada sampel solution ditambahkan lima tetes reagen 9. Kemudian kocok hingga homogen. 2) Tambahkan lima tetes reagen 10, kocok kemudian inkubasi selama 5 menit. 3) Dibandingkan dengan skala warna. f. Analisis adanya Magnesium Prinsip Pemeriksaan Prinsip pemeriksaan adalah terbentuknya garam rangkap berwarna merah tua antara Mg2+ dengan kuning titran. Cara Kerja : Reagen 13 : Molybdatophosphoric acid solution Reagen 5 : Borate buffer solution Prosedur kerja : 1) Pada sampel ditambah 3 tetes reagen 13, kemudian kocok. 2) Inkubasi 2 menit. 3) Kemudian tambah 2 tetes reagen 5, kemudian kocok. 4) Dibandingkan dengan skala warna. g. Analisis Adanya Asam Urat (Uric Acid) Prinsip Pemeriksaan Prinsip pemeriksaan berdasarkan terbentuknya kompleks moblidat yang berwarna biru. Konsentrasi asam urat sebanding dengan kompleks yang terbentuk. Cara Kerja: Reagen 13 : Molybdatophosphoric acid solution Reagen 5 : Borate buffer solution Prosedur kerja : 2) Pada sampel ditambah 3 tetes reagen 13, kemudian kocok 3) Inkubasi 2 menit 4) Kemudian tambah 2 tetes reagen 5, kemudian kocok 5) Dibandingkan dengan skala warna. h. Analisis Adanya Cystine Prinsip Pemeriksaan Prinsip pemeriksaannya adalah berdasarkan terbentuknya kompleks berwarna merah antara cystine dengan natrium nitroposid tritura. Cara Kerja Reagen 14 : Amonia solution 9,5 % Reagen 15 : Reducing agen (sodium sulfite) Reagen 16 : Sodium nitroprusside trituration Prosedur Kerja : 1) Pada sampel solution ditambah dengan 10 tetes reagen 14, kocok. 2) Ditambahkan dengan satu spatula merah reagen 15, kocok. 3) Kemudian tambah satu spatula hitam reagen 16, kocok sampai homogeny dan ditunggu selama 30 detik. 4) Hasil dibandingkan dengan skala warna. 5) Dari hasil analisis ph, adanya CO2, dan kation penyusun batu ginjal, selanjutnya diperkirakan senyawa penyusun baru ginjal tersebut dengan menggunakan kalkulator khusus. Pertama-tama yang dilihat penyusun batu ginjal tersebut, jumlahnya, dan ph. Kemudian diperkirakan senyawayang terbentuk antara penyusun batu ginjal tersebut. Kalkulator penyusun dapat dilihat dalam lampiran. 6) Pelaporan hasil dicocokkan dengan skala yang ada Untuk menentukan ikatan dalam menarik kesimpulan jiga diperhatikan ph yang dihasilkan karena ph juga berpengaruh dalam jenis ikatan yang terbentuk. Untuk menentukan ikatan dalam menarik kesimpula, juga harus diperhatikan berapa ph yang dihasilkan. Karena ph juga berpengaruh dalam jenis ikatan yang terbentuk. Misalnya pada contoh pemeriksaan di atas, Ca-Oxalat tidak disebutkan karena di atas ph 7 dan carbonat (+) positif. f. Hasil Selasa, 03 April 2012 (Hasil terlampir) Nama : Swastika I Ketut Umur/Kelamin : 50 th 3 bln 3 hr / Laki-laki Rujkan : Rujukan Irna Ruang/ Kelas : Bakung Barat/ 1 Dokter Pengirim :0 No. RM : 01.55.14.79 Makroskopis a. Jumlah banyak b. Besar/ukuran 0.5 gram c. Keras rapuh d. Warna coklat e. Tampang permukaan kasar Pemeriksaan Kimia a. Carbonat negatif b. Calcoum >50% c. Calcium 70% d. Phospat 30% e. Amonium 0.5% f. Magnesium 15% g. Uric acid 0% h. Cystine 10% Kesan/ Saran: Jadi komposisi batu tersebut dengan pH 6.0 terdiri dari Ca Oxlat 85%, Struvite 6%, cystine 9%. g. Pembahasan Analisa batu ginjal yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar Sub Laboratorium Klinik Rutin meliputi pemeriksaan makroskopis dan pemeriksaan kimia, dimana pemeriksaan makroskopis meliputi pengamatan terhadap warna, konsistensi, pengukuran berat dan jumlah. Pemeriksaan kimia meliputi pemeriksaan carbonat, kalsium, magnesium, phosfat, cystine dan amonium. Dalam sehari Sub Laboratorium Klinik Rutin melakukan pemeriksaan 2 sampel batu, dilakukan pemeriksaan dengan metode yang sama pada pemeriksaan batu empedu. Hasil pemeriksaan akan dilakukan kalkulasi hasil dengan melakukan perhitungan dengan bantuan skala untuk pemeriksaan batu ginjal sehingga didapatkan hasil seperti berikut: Selasa, 03 April 2012 (Hasil terlampir) Nama : Swastika I Ketut Umur/Kelamin : 50 th 3 bln 3 hr / Laki-laki Rujkan : Rujukan Irna Ruang/ Kelas : Bakung Barat/ 1 Dokter Pengirim :0 No. RM : 01.55.14.79 Makroskopis f. Jumlah banyak g. Besar/ukuran 0.5 gram h. Keras rapuh i. Warna coklat j. Tampang permukaan kasar Pemeriksaan Kimia a. Carbonat negatif b. Calcoum >50% c. Calcium 70% d. Phospat 30% e. Amonium 0.5% f. Magnesium 15% g. Uric acid 0% h. Cystine 10% Kesan/ Saran: Jadi komposisi batu tersebut dengan pH 6.0 terdiri dari Ca Oxlat 85%, Struvite 6%, cystine 9%. Pemeriksaan batu ginjal bertujuan untuk mengetahui jenis dan komposisi batu ginjal karena Batu ginjal pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat atau kalsium fosfat, asam urat, magnesium amonium fosfat (MAP), Xanthin dan sistin. BSK mempunyai komponen dasar kalsium sekitar 75% berupa kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran oksalat dan fosfat. Sumber Ratu,dkk.2010.http://journal.unair.ac.id/form_download.php?id=NzM2&nm=SUpDUE1MLTEyLTMtMDMucGRm&no=1 PEMERIKSAAN URINE LENGKAP A. Tujuan 1. Untuk mengetahui hasil dari parameter pemeriksaan urine lengkap yang digunakan dalam menegakkan diagnose 2. Untuk mengetahui adanya unsur organik dan an-organik yang terdapat dalam urine. B. Metode 1. Reflaktan untuk pemeriksaan urine lengkap 2. Metode Mikroskopis untuk pemeriksaan sedimen urine C. Prinsip 1. Pemeriksaan Urine Lengkap Zat dalam urine bereaksi dengan reagen-reagen spesifik yang terdapat dalam stick carik celup. Reaksi warna yang dihasilkan dibandingkan dengan standar yang ada pada alat 2. Pemeriksaan Sedimen Urine Unsur-unsur yang terdapat dalam urine yang terendapkan dengan pemusingan akan terlihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 40x. Sedimen organik yang dilaporkan adalah adanya eritrosit, leukosit, sel epitel, silinder, jamur, parasit, kristal dan lain-lain (misalnya spermatozoa). D. Alat dan bahan a. Alat : 1. Cobas U 411 2. Tabung reaksi dan raknya 3. Stick combur 10 M 4. Mikroskop 5. Objek gelas 6. Cover gelas b. Bahan : 1. Sampel urine pagi atau sewaktu E. Dasar Teori Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra (Wiki, 2012). Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat (Wiki, 2012). Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril. Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat (Wiki, 2012). F. Prosedur kerja 1. Pemeriksaan Sedimen Urine a. Alat dan bahan disiapkan. b. Sampel urine disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 3 menit. c. Supernatan yang dibentuk dibuang dan endapan diteteskan di atas object glass kemudian ditutup dengan cover glass. d. Preparat diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 40x. e. Hasil diamati, dicatat dan dilaporkan. 2. Pemeriksaan Urine Lengkap a. Cara menghidupkan Cobas U411 1. Ditekan tombol On/Off dibelakang alat 2. Ditunggu hingga layar bisa terlihat 3. Diklik “A-Z” pada layar 4. Selanjutnya diklik password dan diketik urine 5. Diklik tanda “√” kemudian diklik “√” 6. Ditunggu sebentar, kemudian diklik “Workpleace” untuk mengatur control dan memasukkan reagen control. Control dilakukan setiap pagi. b. Cara memasukkan Control pada alat Cobas U 411 1. Diklik “Run Control” untuk mengontrol alat dengan cara memasukkan reagen control 1 dan control 2. 2. Disiapkan 2 tabung untuk tempat reagen control1 (warna kuning) dan reagen control 2 (warna coklat). 3. Diklik “control 1” dan diklik “√”, masukkan reagen Combur 10 M ke dalam reagen control 1 sampai semua parameter kertas pH terendam oleh reagen control 1 dan ditiriskan menggunakan tissue kering, selanjutnya diletakkan di alat Cobas U 411. 4. Selanjutnya diklik “control 2” dan klik “√”, dimasukkan reagen Combur 10 M ke dalam reagen control 1 sampai semua parameter kertas pH terendam oleh reagen control 2 dan ditiriskan menggunakan tissue kering, selanjutnya diletakkan di alat Cobas U 411. 5. Ditunggu hingga hasil keluar secara automatis. Jika pada hasil tidak menunjukkan ada tanda (*) maka control alat Cobas U411 berhasil. Alat Cobas U411 bisa digunakan untuk pemeriksaan sampel urine. 6. Jika ada bunyi alarm berarti itu bertanda ada perintah, dipencet tanda (!) dan baca perintahnya. c. Cara melakukan pemeriksaan sampel pada alat cobas U 411 1. Diklik “workplace” dan klik “sampel entry” untuk mengetahui urutan nomor sampel pemeriksaan supaya tidak terjadi kesalahan. 2. Jika sudah pasti nomor pemeriksaan klik “Worklist” untuk mem-barcode nomor permintaan. 3. Diklik “X” dan klik “Worklist” nomor akan berurutan dari nomor terkecil. 4. Sampel urine disiapkan. 5. Dimasukkan urine pasien ke tabung sentrifuge ±5 ml 6. Dimasukkan reagen Combur 10 M sampai semua parameter kertas pH terendam oleh sampel dan ditiriskan menggunakan tissue kering, selanjutnya diletakkan di alat Cobas U 411. 7. Ditunggu hasil keluar secara automatis 8. Parameter pemeriksaan dan nilai normalnya d. Cara mematikan alat Cobas U411 1. Diklik “X” dan pilih “Overview” 2. Diklik “Log Off” 3. Diklik “ Shut Down” Interpretasi Hasil 1. Pemeriksaan Urine Lengkap Parameter Satuan Nilai Normal pH - 5-8 Leukosit Leu/UI Negatif Nitrit - Negatif Protein mg/dL Negatif Glukosa mg/dL Normal Keton mg/dL Normal Urobilinogen mg/dL 1 Bilirubin mg/dL Negatif Eritrosit Ery/uL Negatif Massa Jenis mg/dL 1,005 – 1,020 Kekeruhan - Jernih Warna - Kuning 2. Pemeriksaan Sedimen Urine Parameter Satuan Nilai Normal Leukosit / lapang pandang < 6/lp Eritrosit / lapang pandang < 3/lp Sel epitel / lapang pandang 0,00 – 0,00 Silinder / lapang pandang Negatif Jamur / lapang pandang Negatif Parasit / lapang pandang Negatif Kristal / lapang pandang Negatif Lain-lain / lapang pandang Negatif G. Hasil Nama : Waneng Wayan Umur : 64 thn 6 bln 21 hr Jenis Kelamin : Laki-laki Instalasi : IRNA – Saraf Diagnosa : - Hasil 1. pH : 7,00 2. Leukosit : 500,00 3. Nitrite : neg 4. Protein : neg 5. Glukosa : norm 6. Ketone : neg 7. Urobilinogen : norm 8. Bilirubin : neg 9. Eritrosit : 25,00 10. Berat jenis : 1,015 11. Warna : Kuning 12. Sedimen urine: - Lekosit : banyak / lp - Eritrosit : 2-3 /lp - Sel epitel : - - Gepeng : - - Silinder : - - Kristal : - - Lain-lain bakteri +, spermatozoa + /lp Penilaian Hasil Pemeriksaan Urine Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan urine. Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan dipelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain. Faktor-Faktor Yang Turut Mempengaruhi Susunan Urin Untuk mendapatkan hasil analisa urin yang baik perlu diperhatikan beberapa faktor antara lain persiapan penderita dan cara pengambilan contoh urin. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan zat reduktor seperti vitamin C, karena zat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif palsu dengan cara enzimatik. Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang memberi warna pada urin, seperti vitamin B2 (riboflavin), pyridium dan lain lain. Pada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat. Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkin banyak berbeda dari waktu ke waktu sepanjang hari, karena itu penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat dipergunakan urin - sewaktu, ialah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urin- sewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi. Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan. Pada penderita yang sedang haid atau "leucorrhoe" untuk mencegah kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean voided specimen yaitu dengan melakukan kateterisasi, punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut ditampung. Pemeriksaan Makroskopik, Mikroskopik Dan Kimia Urin Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit. Pemeriksaan Makroskopik Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urin. Pengukuran volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan. Pengukuran volume urin yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urin bermanfaat untuk menentukan gangguan faal ginjal. Volume urin Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri. Poliuri ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. Bila volume urin selama 24 jam 300--750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri. Keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus. Warna urin Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat menunjukkan kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. Bila didapatkan perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat. Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal, seperti hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna coklat. Warna urin yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman pada urin. Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak. Berat jenis urin Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 -- 1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun. Bau urin Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih. pH urin Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 -- 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya dipertahankan basa. Pemeriksaan Mikroskopik Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB. Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif, yaitu jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan + (ada), ++ (banyak) dan +++ (banyak sekali). Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan kristal. Eritrosit atau leukosit Eritrosit atau leukosit di dalam sedimen urin mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih. Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia. Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus. Silinder Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel. Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal. Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit eritrosit, leukosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin. Kristal Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin. Epitel Merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin. Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran kemih. Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Pemeriksaan Kimia Urin Di samping cara konvensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus dipertahankan, penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik mengenai cara penyimpanan, pemakaian reagnes pita dan bahan pemeriksaan. Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya segera dilakukan. Bila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu jam, sebaiknya urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar. Agar didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang telah berada dalam buli-buli minimal selama 4 jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar karena zat-zat ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila urin dibiarkan pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan pH menjadi alkali dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena kontaminasi dapat memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin karena terbentuknya peroksidase dari bakteri. Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan mukoprotein. Oleh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin. Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara ini. Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post-renal. Kelainan pre-renal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia hemolitik yang disertai hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat timbul karena gangguan perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. Proteinuria karena kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan glomerulus atau tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lain-lain. Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl. Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil negatip palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau benda keton melebihi 40 mg/dl. Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi. Benda- benda keton dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebllh dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan. Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi. Hal ini terjadi sebelum kadar benda keton dalam serum meningkat. Pemeriksaan bilirubin dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat. Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium. Pemeriksaan urobilinogen dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin. Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh. Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi. Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan dengan tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan berhasil positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu diperhatikan bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah berada dalam buli-buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam akan memberikan basil positif pada 40% kasus. Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam buli-buli lebih dari 4 jam. Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya bakteriurea, karena basil negatif mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga kuman tidak dapat merubah nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam buli-buli kurang dari 4 jam atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negatif. Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu terjadi bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion nitrat dalam urin kurang dari 0,03 mg/dl. dr. R. Wirawan, dr. S. Immanuel, dr. R. Dharma Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta Cermin Dunia Kedokteran No. 30 http://www.smallcrab.com/kesehatan/795-penilaian-hasil-pemeriksaan-urine PEMERIKSAAN JUMLAH PROTEIN LOSS A. Tujuan Untuk mengetahui jumlah protein dalam urine 24 jam. B. Metode Esbach C. Prinsip Protein dalam urine akan mengendap dalam suasana asam dengan penambahan reagen Esbach. D. Dasar Teori Pemeriksaan es bach merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar protein dalam urin (proteinuria). Tes esbach yang disebut juga dengan metode dipstik ini merupakan pemeriksaan kuantitatif dengan nilai 0-4 (+). Pemeriksaan ini sensitif terhadap 60mg/l albumin, tetapi kurang sensitif terhadap protein Bence Jones dan protein lain yang berat molekulnya rendah misal β2-mikroglobulin. Pemeriksaan ini terkenal karena kemudahannya. Sampel urin yang digunakan untuk tes esbach ini adalah dari pengumpulan urin 24 jam yang ditampung (Mei, 2012). Jadi untuk mendapatkan sampel urin ini, pasien diharuskan menampung semua urinnya selama 24 jam mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi pada hari berikutnya. Urin yang keluar pertama kali pada pagi hari tidak ditampung, karena merupakan hasil dari malam harinya. Jadi urin mulai ditampung setelah berkemih pertama kali pada pagi hari sampai pasien berkemih pertama kali pada pagi hari di hari berikutnya. Pengumpulan urin 24 jam ini membuat pasien tidak nyaman dan tidak praktis karena pasien harus membawa kemana-mana tempat untuk menampung urinnya, serta sering kali pasien lupa untuk menampung urinnya ketika sedang berkemih. Pada tes esbach false positif dapat terjadi bila urin sampel sifatnya terlalu basa atau terlalu encer. Selain itu bila dari hasil pemeriksaan didapati positif samara harus diperiksa dengan asam salisilsulfonat atau dengan tes pendidihan karena mungkin positif palsu yang dihasilkan oleh urin alkali yang berbufer kuat. E. Alat dan Reagensia Alat : Albuminometer Esbach Reagensia : Reagen Esbach ( 1 gram asam pikrat ditambah 2 gram asam sitrat add aquadest 100 ml). F. Prosedur Kerja 1. Sampel urine 24 jam dibuat homogen dengan mencampur dan mengocok terlebih dahulu. 2. Volume sampel urine 24 jam dicatat. 3. Sampel urine dimasukkan ke dalam tabung Esbach (albuminometer) sampau tanda “U”. 4. Ditambahkan dengan reagen Esbach sampai tanda batas “R”. 5. Menutup tabung kemudian membolak-balikkan beberapa kali supaya homogeny. 6. Tabung diletakkan tegak lurus selama 24 jam dalam tempat gelap. 7. Tinggi endapan yang terbentuk dibaca dan skala yang ada pada tabung menunjukkan banyaknya gram protein perliter urine. 8. Perhitugan hasil : Volume urine = …….L/24 jam Tinggi endapan = …….gram/L Protein Loss = (Volume urine 24 jam : 1000) x tinggi endapan =…..gram/24 jam Protein yang hilang dinyatakan dalam gram/l urine 24 jam. G. Hasil Nama : Merta, Ni Nengah Umur : 40 thn 3 bln 6 hr Instalasi : Kebidanan dan Kandungan Ruang Rawat : Bakung Timur Hasil Jumlh urine/ 24 jam : 4500 ml Protein Esbach : negatif Pembahasan Mei, 2010http://yuiforme.blogspot.com/2010/05/tes-esbach.html TES KEHAMILAN / PLANO PREGNANTCY TEST (PPT) A. Tujuan Untuk mengetahui adanya hormon β – HCG dalam urin pada wanita sebagai petanda kehamilan B. Metode Rapid Test cassette C. Prinsip Hormon β – HCG dalam urine akan bereaksi dengan reagen anti β – HCG yang terdapat dalam test strip. Reaksi ini menghasilkan kompleks berwarna merah yang teramati pada garis stik. D. Dasar Teori Deteksi kehamilan dengan mengukur beta-HCG urin diantaranya adalah dengan metode aglutinasi (direct atau indirect) dan metode strip. Keduanya berdasarkan reaksi pembentukan kompleks antigen-antibody (immunoassay). Metode aglutinasi dapat mendeteksi adanya beta-HCG di urin minimal 200 mIU/ml sedangkan metode strip lebih sensitif yaitu minimal 20-25 mIU/ml. Metode strip ini yang lazim dilakukan karena selain lebih sensitif juga lebih praktis (Djjar, 2012). Reaksi pembentukan kompleks antigen antibodi antara HCG sebagai antigen dan anti HCG sebagai antibody bersifat spesifik. Antibodi akan mengenali antigen pada lokasi tertentu yang disebut epitop. Antibodi poliklonal adalah antibodi yang mengenali suatu antigen melalui ikatan dengan epitop yang bervariasi karena berasal dari sel B yang berbeda-beda. Sedangkan antibodi monoklonal lebih spesifik mengenali antigen pada satu epitop tertentu karena berasal dari satu sel B yang dibiakan (Djjar, 2012). Terdapat 3 antibodi anti HCG pada strip, antibodi tersebut adalah antibodi anti HCG yang pertama (kita sebut saja anti HCG-1), antibodi anti HCG yang kedua (anti HCG-2) dan anti-anti HCG-1 (antibodi dengan anti HCG-1 sebagai antigen). Ketiga antibodi itu terletak di lokasi yang berbeda dengan sifat yang berbeda pula. Anti HCG-1 bersifat mobile sehingga bisa ikut berpindah ke area Test (T) dan Control (C) melalui gerakan kapilaritas. Anti HCG-1 merupakan antibodi monoklonal sedangkan anti HCG-2 bersifat poliklonal. Anti HCG-2 di area T dan anti-anti HCG-1 di area C bersifat fixed atau tertanam, artinya tidak dapat berpindah sehingga tidak ikut mengalir/berpindah tempat (Djjar, 2012). Enzim yang terikat anti HCG-1 akan menjadi enzim aktif bila ada ikatan antara anti HCG-1, HCG dan Anti HCG-2 di area T atau ikatan antara anti HCG-1 dan anti-anti HCG di area C. Enzim aktif di area T dan atau C akan mengubah substansi tak berwarna menjadi substansi berwarna merah (Djjar, 2012). Bila urin mengandung HCG, HCG sebagai antigen, akan berikatan dengan anti HCG. Gaya kapilaritas membawa senyawa ikatan HCG dan anti HCG-1 menuju daerah T. Di daerah T, anti HCG-2 akan berikatan dengan HCG yang telah berikatan dengan anti HCG-1 namun pada epitop yang berbeda. Terbentuklah kompleks anti HCG-1, HCG, dan anti HCG-2. Enzim menjadi aktif dan daerah T berwarna merah. Selanjutnya, sisa anti HCG-1 yang belum berikatan dengan HCG akan menuju daerah C dan berikatan dengan anti-anti HCG-1. Kompleks ini akan mengaktifkan enzin sehingga daerah T berwarna merah. Pada akhirnya, akan terlihat dua strip merah yaitu pada daerah T dan daerah C dan diintepretasikan sebagai hasil positif hamil (Djjar, 2012). E. Alat dan Bahan Alat : Test Strip Uji Kehamilan Bahan : Urine pagi F. Prosedur kerja 1. Sampel urine yang akan diperiksa dicocokkan dengan identitas pasien dan lembar pemeriksaan. 2. Stik dimasukkan kedalam sampel sampai tanda batas yaitu pada tanda panah pada stik 3. Ditunggu 4-6 detik, kemudian stik diangkat dan didiamkan selama 1-5 menit, hasil kemudian dibaca. 4. Interpretasi hasil. (-) : jika muncul satu garis merah muda (+) : jika muncul dua garis merah muda G. Hasil Nama : Fadlun B. Umur : 51 thn 7 bln 14 hr Jenis Kelamin : Perempuan Instalansi : IRJ –Kebidanan & Kandungan Hasil Tes Kehamilan : Negatif PEMERIKSAAN FECES LENGKAP A. Tujuan Untuk mengetahui keadaan feses secara lengkap B. Metode Makroskopis dan Mikroskopis C. Prinsip Pemeriksaan makroskopis dengan melihat langsung sampel. Sedangkan pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan membuat preparat basah dengan pewarnaan lugol. Lalu dilihat secara mikroskopis adanya sel epitel, makrofage, sel darah, sisa makanan dan telur cacing yang terdapat pada feses. D. Dasar Teori Feses merupakan Sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan, dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna. Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus, bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, debris, celulosa gas indol, skatol,sterkobilinogen dan bahan patologis. Normal : 100 – 200 gram / hari. Frekuensi defekasi : 3x / hari – 3x / minggu (Anggraheni, 2011). Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna. Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum (Anggraheni, 2011). Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsur dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia. Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah maupun konsistensinya. Tempat harus bersih, kedap, bebas dari urine, diperiksa 30 – 40 menit sejak dikeluarkan. Bila pemeriksaan ditunda simpan pada almari es. Pasien dilarang menelan Barium, Bismuth, dan Minyak dalam 5 hari sebelum pemeriksaan. Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan (anggraheni, 2010). E. Alat dan reagen a. Alat 1. Objek glass 2. Cover glass 3. Lidi b. Bahan 1. Sampel feses 2. Reagen : Lugol F. Prosedur kerja a. Pemeriksaan Makroskopis 1. Sampel feses yang terdapat pada tabung atau tempatnya, dilihat dan diperiksa warna, konsistensi, lender, bau, dan darah secara makroskopis. 2. Hasilnya dicatat dan dilaporkan. b. Pemeriksaan mikroskopis 1. Disiapkan objek glass yang bersih dan kering, lalu ditetesi dengan lugol 1 tetes. 2. Diambil sedikit fese dengan lidi. Letakkan sampel pada objek glass yang telah ditetesi lugol. 3. Diaduk hingga homogen 4. Lalu ditutup dengan cover glass, dan diamati di bawah mikroskop. Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 x untuk pemeriksaan telur cacing dilakukan dengan pembesaran 10 x. G. Hasil Nama : Deden Bagja Sudrajat Umur : 38 thn 5 bln 14 hr Jenis Kelamin : IRNA – Penyakit Dalam Hasil 1. Makroskopis a. Warna : coklat b. Konsistensi : lembek c. Lendir : negatif d. Darah : negatif 2. Mikroskopis a. Leukosit : negatif b. Eritrosit : negatif c. Amoeba : negatif - Vegetatif : negatif - Kista : negatif d. Telor cacing : negatif e. Lain-lain : gist sel +- Candida + http://anggraheniheksaningtyas.blogspot.com/2011/03/pemeriksaan-feses.html DARAH SAMAR (TEST BENZIDINE) A. Tujuan Untuk mengetahui adanya darah yang tidak terlihat secara makroskopis dan mikroskopis dalam feses B. Metode Benzidine C. Prinsip Pemeriksaan darah samar dengan metode benzidine adalah terjadinya reaksi antara Hb dengan reagen benzidine dengan H2O2 sebagai katalisator yang menghasilkan HbO (Hemoglobin Oksida) yang berwarna hijau muda sampai biru tua. Hasil yang diperoleh adalah semikuantitatif. D. Dasar Teori Tinja merupakan sisa makanan yang telah dicerna oleh usus dan dikeluarkan oleh tubuh dalam bentuk benda padat. Pada keadaan abnormal atau adanya kelainan di dalam saluran cerna, tinja dapat menunjukkan bentuk serta hasil pemeriksaan yang abnormal. Pemeriksaan tinja meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, darah samar dan pemeriksaan sisa-sisa pencernaan (Bio, 2011). Pemeriksaan mikroskopik tinja digunakan mikroskop cahaya untuk melihat unsur abnormal seperti telur cacing, sisa makanan yaitu lemak, amilum, adanya eritrosit bila ada perdarahan. Perdarahan pada saluran cerna tidak selalu memberikan warna merah pada tinja khususnya pada perdarahan saluran cerna bagian atas, darah akan diubah oleh asam lambung menjadi warna coklat kehitaman yang dipastikan dengan pemeriksaan darah samar tinja (Bio, 2011). Di Laboratorium Klinik Bio Medika, pemeriksaan tinja dilakukan dengan pemeriksaan secara makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan darah di dalam tinja menggunakan uji darah samar spesifik dengan menggunakan antibodi monoklonal (Bio, 2011). E. Alat dan reagen a. Alat : 1. Objek glass 2. Lidi 3. Cover glass 4. Tabung reaksi b. Bahan : 1. Feses 2. Reagen : Reagen Benzidine yang dibuat setiap kali pemeriksaan. F. Prosedur kerja a. Pembuatan Reagen Benzidine 1. Dibuat reagen Benzidine, 2. Dimasukkan aquadest kedalam tabung reaksi ± 5 ml 3. Diteteskan asam cuka 2-3 tetes 4. Ditambahkan 2-3 tetes H2O2 5. Diambahkan sepucuk lidi cristal benzidine 6. Kemudian dikocok sampai homogen b. Pengujian Reagen 1. Dilakukan uji reagen yang baru dibuat 2. Diteteskan reagen diatas objek glass 2-3 tetes 3. Ditambahkan darah 4. Jika warnanya menjadi hijau berarti pembuatan reagen benar c. Pengujian Sampel 1. Disiapkan objek glass kosong dan bersih 2. Diteteskan reagen benzidine 2-3 tetes diatas objek glass 3. Ditambakhan sepucuk sampel feses 4. Diaduk dan diamati perubahan warna yang terjadi. G. Hasil Nama : Deva Okta Wiguna I Kd Umur : 0 Thn 5 bln 11 hr Jenis Kelamin : Laki-laki Ruang rawat : Jempiring Interpretasi hasil (-) : tidak terjadi perubahan warna (+) : hijau (++) : biru kehijauan (+++) : biru (++++) : biru tua http://www.biomedika.co.id/svtinja.php PEMERIKSAAN KONSENTRASI TINJA (OOKISTA) A. Tujuan Untuk mengetahui adanya Ookista cryptosporidium pada feses B. Metode Konsentrasi tinja C. Prinsip Sampel feses disentrifugasi dengan pelarut organik maka Ookista cryptosporodium yang memiliki berat jenis lebih rendah akan mengapung dan dibuat sediaan. D. Dasar Teori E. Alat dan bahan a. Alat 1. Object glass 2. Cover glass 3. Tabung centrifugasi bertutup (corning) 4. Lidi 5. Centrifugasi 6. Mikroskop b. Bahan : 1. Feses 2. Reagen : 2. Pelarut formalin 3. Pelarut eter 4. Aquadest 5. Pewarna carbol fuchsin 6. Pelarut asam alkohol 7. Pewarna malasit green F. Prosedur kerja 1. Dimasukkan sampel feses kedalam tabung corning sampai skala 3. 2. Ditambahkan aquadest sampai skala 10, kemudian dikocok sampai homogen. 3. Disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 3 menit. 4. Supernatant dibuang sedangkan endapan ditambahkan pelarut formalin sampai skala 10. 5. Kemudian ditambahkan pelarut eter sampai skala 12, kemudian dikocok sampai homogen. Penuangan larutan formalin dan eter dilakukan pada lemari asam di Sub. Lab Kesling. 6. Disentifugasi kembali dengan kecepatan 3000 rpm selama 3 menit. 7. Diambil endapan feses yang mengapung dengan lidi untuk dibuat hapusan. 8. Kemudian hapusan dibiarkan kering. 9. Sediaan yang telah kering ditetesi carbol fuchsin selama 30 menit. 10. Kemudian dibilas pada air mengalir. 11. Setelah itu teteskan asam alkohol sampai cat carbol fuchsin hilang. 12. Dibilas dengan air mengalir 13. Diteteskan dengan cat malasit green selama 3 menit. 14. Dibilas dengan air mengalir 15. Ditunggu hingga kering. Diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 100 kali menggunakan oil imersi. 16. Hasil positif dengan ditemukannya Ookysta cryptosporidium yang tampak sebagai objek bundar berwarna merah muda yang berisi granulosit berbentuk sabit yang jumlahnya >1 dengan latar belakang berwarna hijau. G. Hasil Tidak terlampir karena belum selesai mengerjakan PEMERIKSAAN CAIRAN OTAK a. Tujuan Untuk mengetahui adanya protein, sel eritrosit dan sel leukosit yang terdapat dalam cairan otak. b. Metode Metode makroskopis, mikroskopis, dan pemeriksaan kimia c. Prinsip Pemeriksaan cairan otak terdiri dari tiga pemeriksaan yaitu pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan pemriksaan kimia. d. Alat dan reagen a. Alat 1. Mikroskop 2. Kamar hitung improved newbauer 3. Kaca arloji 4. Tabung reaksi 5. Pipet tetes b. Bahan 1. Sampel LCS 2. Reagen : 8. Reagen Turk Pekat 9. Reagen Nonne (larutan jenuh ammonium sulfat atau ammonium sulfat 80 gr ditambah aquadest 100ml) 10. Reagen Pandy (larutan fenol jenuh dalam air atau phenolum liquefactum 10 ml ditambah aquadest 90ml lalu simpan beberapa hari dalam inkubator 370 C dengan sering-sering dikocok) E. Prosedur kerja a. Pemeriksaan Makroskopis 1. Diamati secara makroskopis 2. Warna normal adalah jenir/tidak berwarna 3. Kekeruhan normal adalah cairan otak tampak jernih 4. Sedimen normal adalah tidak adanya bekuan pada sampel 5. Darah normal adalah tidak terdapat darah b. Pemeriksaan Mikroskopis 1. Cairan otak yang akan diperiksa sebelumnya dikocok 2. Dengan pipet diisap 180 µl sampel dan ditambahkan 20 µl larutan Turk, apabila ditemukan sel banyak maka dilakukan dengan pipet diisap 20 µl sampel dan ditambahkan 180 µl larutan Truk, pengenceran 10 kali. 3. Dimasukkan dalam kamar hitung improved newbauer. 4. Semua sel leukosit dihitung di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali. 5. Dihitung dalam 9 kotak leukosit, rumusnya : Cara perhitungan : 1/0,9 x sel x 10 (pengenceran) = …/mm3 6. Pelaporan sel dibedakan antara mono dan poly dengan satuan %. c. Pemeriksaan Kimia 1. Tes Pandy a. Kedalam kaca arloji dimasukkan 1ml reagen Pandy b. Ditambahkan dengan 1 tetes sampel ke dalam tabung tersebut c. Dilihat apakah tejadi kekeruhan atau tidak. Hasil (-) : tidak ada kekeruhan (+) : terjadi kekruhan 2. Tes Nonne a. Sebanyak 1ml reagen Nonne dimasukkan dalam tabung dan ditambahkan sampel 0,5ml melalui dinding tabung. b. Didiamkan, kemudian diamati apakah terbentuk cicin warna putih atau abu-abu perbatasan cairan. Hasil (-) : tidak terdapat cincin berwarna putih atau abu-abu (+) : terdapat cincin berwarna putih atau abu-abu F. Hasil Hasil terlampir PEMERIKSAAN TRANSUDAT DAN EKSUDAT a. Tujuan Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada sampel cairan pleura saat bereaksi dengan asam asetat dan menghitung sel leukosit dalam cairan pleura. b. Metode Direct c. Prinsip Pemeriksaan Cairan Pleura dan Cairan Ascites terdiri dari tiga pemeriksaan yaitu pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan pemeriksaan kimia. d. Alat dan reagen a. Alat : 1. Mikroskop 2. Kamar hitung improved newbauer 3. Kaca arloji 4. Tabung reaksi 5. Pipet tetes b. Bahan : 1. ReagenTtruk Pekat 2. Cairan Pleura 3. Cairan Ascites 4. Reagen : Reagen asam asetat Glacial 5% e. Prosedur kerja a. Pemeriksaan Makroskopis 1. Diamati secara makroskopis 2. Warna normal adalah jernih/ tidak berwarna. 3. Kekeruhan normal adalah cairan Pleura dan Cairan Ascites tampak jernih. 4. Kemudian cek pH untuk indikasi tindakan. b. Pemeriksaan Mikroskopis 1. Cairan Pleuran dan Cairan Ascites yang akan diperiksa sebelimnya dikocok. 2. Dengan pipet diisap 180 µl sampel dan ditambahkan 20 µl larutan Turk, apabila ditemukan sel banyak maka dilakukan dengan pipet diisap 20 µl sampel dan ditambahkan 180 µl larutan Truk, pengenceran 10 kali. 3. Dimasukkan dalam kamar hitung improved newbauer. 4. Semua sel leukosit dihitung di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali. 5. Dihitung dalam 9 kotak leukosit, rumusnya : Cara perhitungan : 1/0,9 x sel x 10 (pengenceran) = …/mm3 6. Pelaporan sel dibedakan antara mono dan poly dengan satuan %. c. Pemeriksaan Morfologi sel 1. Sampel ditempatkan dalam tabung centrifuge. 2. Disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 1000rpm. 3. Supernatant dibuang dan sedimen dipakai untuk membuat sediaan apus yang dibiarkan kering pada suhu kamar. 4. Diteteskan methanol 96% ke atas sediaan apus dan biarkan selama 5 menit. 5. Dituanglah larutan Giemsa pada sediaan tersebut dan biarkan selama 45 menit. 6. dicuci dengan air mengalir dan biarkan mengering 7. Diperiksa dengan mikroskop menggunakan lensa objektif 100x dan minyak imersi. 8. Dibuatlah hitung atas dasar 100 sel d. Pemeriksaan Rivalta 1. Dimasukkan aquadest dalam tabung reaksi. 2. ditambahkan 1 tetes asam asetat glasial dan homogenkan. 3. Diteteskan 1 tetes sampel ke dalam tabung reaksi tersebut 4. Diperhatikan tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan campuran asam asetat. Interpretasi hasil a. (-) : terdapat kabut : eksudat b. (+) : tidak terdapat kabut : transudat

Selasa, 27 September 2011

Analisis Sperma (bahan laporan)

Analisa Sperma
PEMERIKSAAN ANALISA SPERMA

1. Penerangan dan cara penampungan sperma manusia
Sebelum melakukan analisis sperma perlu terlebih dahulu untuk memberikan penerangan sejelas-jelasnya kepada pria yang akan diperiksa tersebut mengenai maksud dan tujuan analisis sperma dan juga untuk menjelaskan cara pengeluaran dan penampungan sperma tersebut. Penerangan mengenai cara pengeluaran, penampungan dan pengiriman sperma ke laboraturium. Sebelum pemeriksaan dilakukan sebaiknya pasien dianjurkan untuk memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Melakukan abstinensia selam 3 – 5 hari, paling lama selama 7 hari.
b. Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan harus dikeluarkan di laboratorium. Bila tidak mungkin, harus tiba di laboraturium paling lambat 2 jam dari saat dikeluarkan.
c. Ejakulat ditampung dalam wadah / botol gelas bemulut besar yang bersih dan steril ( jangan sampai tumpah ), Kemudian botol ditutup rapat-rapat dan diberi nama yang bersangkutan.
d. Pasien mencatat waktu pengeluaran mani, setelah itu langsung di serahkan pada petugas laboraturium untuk pemeriksaan dan harus diperiksa sekurang-kurangnya 2 kali dengan jarak antara waktu 1-2 minggu. Analisis sperma sekali saja tidak cukup karena sering didapati variasi antara produksi sperma dalam satu individu.
e. Sperma dikeluarkan dengan cara : rangsangan tangan (onani/masturbasi), bila tidak mungkin dapat dengan cara rangsangan senggama terputus (koitus interuptus) dan jangan ada yang tumpah.
f. Untuk menampung sperma tidak boleh menggunakan botol plastik atau kondom.

1.1 Beberapa cara memperoleh sperma

a. Masturbasi / Onani
Cara ini merupakan methode yang paling dianjurkan untuk memperoleh sperma, biasanya dengan tangan (baik tangan sendiri maupun tangan istrinya) atau dengan suatu alat tertentu. Kebaikan cara ini menghindari kemungkinan tumpah ketika menampung sperma, menghindari dari pencemaran sperma dengan zat-zat yang lain.

b. Coitus Interuptus ( CI )
Adalah melakukan persetubuhan secara terputus, hal ini kurang baik dianjurkan sebab :
 Memungkinkan sperma dapat tercampur dengan cairan vagina, sehingga banyak mengandung epitel, leukosit, eritosit, bakteri, parasit, jamur dll.
 Dalam jumlah penampungannya kurang, karena sperma sebagian dapat mesuk ke vagina. Disamping itu terjadi kesalahan pada pemeriksaan PH dan konsentrasi.

c. Coitus Condomatosus
Pengeluaran sperma dangan cara ini dilarang dan sangat tidak diperkenankan. Karena sebagian besar karet kondom mengandung bahan spermiacidal, yaitu bahan yang dapat mematikan sperma

d. Reflux poscital
Adalah suatu cara Coitus dimana setelah sperma keluar dan masuk kevagina, sperma tersebut dibilas demga pz atau cairan lainnya. Hal ini akan timbul kekeliruan dalam volume konsentrasi dan viskositas.

e. Massage prostat
Adalah suatu cara pengeluaran dengan cara memijat kelenjar prostat lewat rectum, disini jelas akan timbul kekeliruan dalam penafsiran pH, konsentrasi dan sebagainya yang keluar adalah cairan prostat.
Jadi cara memperoleh sperma yang paling baik adalah dengan onani meskipun faktor psikis ada pengaruhnya. Hal ini dapat terjadi pada orang desa, orang tertentu yang tidak bisa melakukan onani atau orang yang tidak mengerti tentang onani.
Biasanya orang kota lebih gampang dari pada orang desa, orang muda lebih mudah dari pada orang tua, orang yang tidak di sunat lebih gampang daripada orang yang di sunat, juga pengaruh religius.
Cara memperoleh sperma sebagai pilihan kedua adalah dengan cara Coitus Interuptus bila alasan religius cara pertama tidak memungkinkan.


1.2 Tempat Penampung Sperma

Sebenarnya semua alat boleh dipakai asalkan tempat tersebut tidak mengandung spermatotoxic. Sperma sangat tidak dianjurkan ditampung pada tempat-tempat yang terbuat dari :
1. Logam, sebab logam bisa mengganggu muatan listrik dan sperma, sehingga pergerakannya tergaggu.
2. Plastik sebab plastik umumnya mengandung gugus fenol (C6H5OH) sehingga sperma akan rusak.
Pada umumnya tempat yang digunakan menampung sperma terbuat dari gelas yang bersih . tidak mengandung spermatotoxic. Tetapi sperma dilarang ditempat yang terbuat dari :
» Tempat penampung sperma dianjurkan ditampung pada tempat yang terbuat dari bahan yang tidak bereaksi apa-apa.
» Tempat penampung sperma harus bermulut lebar supaya muat pada penis.
» Tempat diberi penutup agar tidak terkontaminasi
» Ukuran tempat penampung sperma 50 ml – 100 ml.

2. Pelaksanaan Analisa Sperma
Spermiogram memuat data-data tentang :
1. Volume sperma.
2. Bau.
3. pH
4. Warna.
5. Liquefaction.
6. Viskositas.
7. Aglutinasi.
8. Jumlah sperma / lapangan pandang.
9. Pergerakan spermatozoa.
10. Leucocyte.
11. Fruktosa.



2.1. Analisa sperma Secara Makroskopis
Sperma yang baru keluar selalu menunjukan adanya gumpalan atau koagolum diantara lendir putih yang cair. Pada sperma yang normal gumpalan ini akan segera mencair pada suhu kamar dalam waktu 15 – 20 menit. Peristiwa ini dikatakan sperma mengalami pencairan (Liquefaction).
Liquefaction terjadi karena daya kerja dari enzim – enzim yang diproduksi oleh kelenjar prostat, enzim ini disebut enzim seminim. Pemeriksaan makroskopis antara lain meliputi :

a. Pengukuran Volume
Dilakukan setelah sperma mencair, cara kerja :
ξ Sperma ditampung seluruhnya dalam botol penampung yang bermulut lebar untuk sekali ejakulasi
ξ Volume diukur dengan gelas ukur yang mempunyai skala volume 0,1 ml.
ξ Kemudian baca hasil.
Volume normal sperma belum jelas sampai sekarang, disebabkan lain bangsa lain volume. Bagi orang indonesia volume yang normal 2 – 3 ml. Volume yang lebih dari 8 ml disebut Hyperspermia, Sedangkan yang kurang dari 1 ml disebut Hypospermia.

Hypospermia disebabkan oleh :
 Ejakulasi yang berturut-turut
 Vesica seminalis kecil ( buntu cabstuksi )
 Penampung sperma tidak sempurna

Hyperspermia disebabkan oleh :
 Kerja kelenjar prostat dan vesika seminalis terlalu giat.
 Minum obat hormon laki – laki.

Kesan volume ini menggambarkan kerja kelenjar prostat dan vesika seminalis.

b. PH
Sperma yang normal tidak banyak berbeda dengan pH darah, untuk mengukur pH cukup dengan menggunakan kertas pH kecuali dalam satu penelitian dapat digunakan pH meter. Cara kerjanya :
Celupkan kertas pH dalam sperma yang homogen yang terdapat dalam botol penampung, baca hasil. Sperma yang normal pH menunjukan sifat yang agak basa yaitu 7,2 – 7,8. pengukuran sperma harus segera dilakukan segera setelah sperma mencair karena akan mempengaruhi pH sperma. Juga bisa karena sperma terlalu lama disimpan dan tidak segera diperiksa sehingga tidak dihasilkan amoniak ( terinfeksi oleh kuman gram (-), mungkin juga karena kelenjar prostat kecil, buntu, dan sebagainya.
pH yang rendah terjadi karena keradangan yang kronis dari kelenjar prostat, Epididimis, vesika seminalis atau kelenjar vesika seminalis kecil, buntu dan rusak.

c. Bau Sperma
Spermatozoa yang baru keluar mempunyai bau yang khas atau spesifik, untuk mengenal bau sperma, seseorang harus telah mempunyai pengalaman untuk membaui sperma. Sekali seorang telah mempunai engalaman, maka ia tidak akan lupa akan bau sperma yang khas tersebut. Baunya Sperma yang khas tersebut disebabkan oleh oksidasi spermin (suatu poliamin alifatik) yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat.


Cara pemeriksaannya :
ξ Sperma yang baru keluar pada botol penampung dicium baunya
ξ Dalam laporan bau dilaporkan : khas / tidak khas
Dalam keadaan infeksi sperma berbau busuk / amis. Sacara biokimia sperma mempunyai bau seperti klor / kaporit.

d. Warna sperma
Memeriksa warna sperma sekaligus memeriksa kekeruhan, sperma yang normal biasanya berwarna putih keruh seperti air kanji kadang-kadang agak keabu-abuan. Adanya lekosit yang disebabkan oleh infeksi traktus genitalia dapat menyebabkan warna sperma menjadi putih kekuningan. Adanya perdarahan menyebabkan sperma berwarna kemerahan.
Cara kerja :
Sperma yang ada dalam tabung reaksi diamati dengan menggunakan latar belakang warna putih menggunakan penerangan yang cukup.

e. Liquefection
Liquefaction dicheck 20 menit setelah ejakulasi (setelah dikeluarkan). Dapat dilihat dengan jalan melihat coagulumnya.
Bila setelah 20 menit belum homogen berarti kelenjar prostat ada gangguan (semininnya jelek).
Bila sperma yang baru diterima langsung encer mungkin :
Tak mempunyai coagulum oleh karena saluran pada kelenjar vesica seminalis buntu atau memang tak mempunyai vesika seminalis.

f. Viskositas (Kekentalan)
Kekentalan atau viskositas sperma dapat diukur setelah likuifaksi sperma sempurna. Pemeriksaan viskositas ini dapat dilakukan dengan dua cara :

 Cara subyektif
Dengan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang pengaduk, kemudian ditarik maka akan terbentuk benang yang panjangnya 3 – 5 cm. Makin panjang benang yang terjadi makin tinggi viskositasnya.


 Cara Pipet Elliason
Syaratnya sperma harus homogen dan pipet yang digunakan harus kering. Mengukur vikositas dengan menggunakan pipet elliason. Prosedurnya cairan sperma dipipet sampai angka 0,1, kemudian atas pipet ditutup dengan jari. Setalah itu arahkan pipet tegak lurus dan stopwath dijalankan, jika terjadi tetesan pertama stopwath dimatikan dan hitung waktunya dengan detik. Vikositas sperma normal < 2 detik. Semakin kental sperma tersebut semakin besar vikositasnya. Hal ini mungkin disebabkan karena :
- Spermatozoa terlalu banyak
- Cairannya sedikit
- Gangguan liquedaction
- Perubahan komposisi plasma sperma
- Pengaruh obat-obatan tertentu.

g. Fruktosa Kualitatif
Fruktosa sperma diproduksi oleh vesica seminalis. Bila tidak didapati fruktosa dalam sperma, hal ini dapat disebabkan karena
- Azospermia yang disebabkan oleh agenesis vas deferens
- Bila kedua duktus ejakulatorius tersumbat
- Kelainan pada kelenjar vesika seminalis
Cara pemeriksaan fruktosa :
- 0.05 ml sperma + 2 ml larutan resolsinol ( 0.5 % dalam alkohol 96% ) campur sampai rata.
- Panaskan dalam air mendidih 5 menit.
- Bila sperma mengandung fruktosa maka campuran diatas menjadi merah coklat atau merah jingga.
- Bila tidak ada fruktosa maka tidak menjadi perubahan warna.
Pemeriksaan fruktosa kualitatif ini harus merupakan pemeriksaan rutin pada sperma azoospermia

2.2 Analisa Sperma Secara Mikroskopik

Sebelum pemeriksaan mikroskopik, sperma tersebut harus diaduk dengan baik, untuk pemeriksaan mikroskopik maka 1 tetes sperma, diameter sekitar 2 – 3 mm, diletakan diatas gelas objek yang bersih dan kemudian ditutup dengan gelas penutup, Setelah itu siap di periksa dibawah pembesaran 100 X atau 400-600 X.

1. Jumlah Sperma Perlapang Pandang / Perkiraan densitas sperma
Sebelum menentukan atau menghitung konsentrasi sperma perlu dilakukan perkiraan kasar jumlah sperma agar dapat menentukan prosedur pengenceran yang akan digunakan dan untuk mempersiapkan sediaan apus untuk analisis morfologi.
Cara Pemeriksaanya :
- Diaduk sperma hingga homogen
- Diambil 1 – 3 tetes cairan sperma ditaruh diatas obyek glass lalu ditutup dengan cover glass(ukuran standar)
- Kemudian dilihat dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 X
- Dihitung berapa banyak spermatozoa pada beberapa lapang pandang
Misalnya dihitung berturut-turut : lapang pandang
I = 10 Spermatozoa
II = 5 Spermatozoa
III = 7 Spermatozoa
IV = 8 Spermatozoa
Disini dalam laporan dituliskan terdapat 5 – 10 spermatozoa perlapang pandang. Perkiraan konsentrasi spermatozoa dikalikan dengan 106 berarti perkiraan konsentrasi spermatozoa adalah 5 – 10 juta/ml
Kalau spermatozoanya banyak dihitung perkwadran (1/4 lapang pandang)
Misalnya ¼ Lapang pandang = 50 spermatozoa, jadi perlapang pandang 200 spermatozoa. Perkiraan konsentrasi spermatozoa dikalikan dengan 106 berarti perkiraan konsentrasi spermatozoa adalah 200 juta/ml
Kalau dilihat perlapang pandang didapatkan nol spermatozoa maka tidak usah dilakukan pemeriksaan konsentrasi, jadi disini menghemat tenaga dan reagensia, bila didapatkan nol spermatozoa disebut Azoospermia.
Azoospermia dapat disebabkan oleh karena :
- Testisnya kecil atau rusak
- Salurannya testis buntu (obstruksi)
- Vasectomy bila diperlukan untuk check up
Apabila Azoospermia, ini menggambarkan operasi vasectomy tersebut berhasil dan ini sangat menggembirakan pasien
- Over dosis Androgen dan corticosteroid

2. Pergerakan Sperma
Pada pemeriksaan perlapang pandang sekaligus kita memeriksa pergerakan spermatozoa dalam memeriksa pergerakan spermatozoa sebaiknya diperiksa setelah 20 menit karena dalam waktu 20 menit sperma tidak kental sehingga spermatozoa mudah bergerak akan tetapi jangan lebih dari 60 menit setelah ejakulasi sebab dengan bertambahnya waktu maka :
- spermatozoa akan memburuk pergerakannya.
- pH dan bau mungkin akan berubah .
spermatozoa yang bergerak baik adalah gerak kedepan dan arahnya lurus, gerak yang kurang baik adalah gerak zig-zag, berputar-putar dan lain-lain
- Jangan sekali-kali menyebut spermatozoa itu mati yang betul adalah spermatozoa tidak bergerak
- Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada suhu kamar (20OC - 25 OC).

Perhitungan :
Dihitung dulu spermatozoa yang tidak bergerak kemudian dihitung yang bergerak kurang baik, lalu yang bargerak baik misal :
- yang tidak bergerak = 25%
- yang bergerak kurang baik = 50%
- yang bergerak baik = 100% - 25% - 50% = 25%
Prosentase pergerakan cukup ditulis dengan angka bulat (umumnya kelipatan 5 misalnya : 10%,15%, 20%)
Kalau sperma yang tidak bergerak > 50% maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui viabilitas sperma (banyaknya sperma yang hidup) sebab sprermatozoa yang tidak bergerakpun kemungkinan masih hidup.

Sebab menurunnya motilitas spermatozoa
 Dilakukan pemeriksaan yang terlalu lama sejak sperma dikeluarkan.
 Cara penyimpanan sampel yang kurang baik.


3. Perhitungan Jumlah Sperma
Perhitungan konsentrasi spermatozoa dapat ditentukan dengan mengunakan metode hemositometer atau ”electronic coulter counter”. Metode hemositometer lebih sering digunakan untuk sperma yang mempunyai perkiraan spermatozoa yang sangat rendah (misalnya 10 juta/ml) atau pemeriksaan sperma yang memerlukan penentuan jumlah dengan segera. Metode hemositometer ini dipergunakan di sebagian besar negara.
Sperma yang telah diaduk dengan baik diencerkan 1 :10, 1:20,1:50,atau 1:100 tergantung pada perkiraan jumlah spermatozoa yang telah dilakukan sebelumnya. Sebagai pengencer berisi 50 gr NaHCO3, 10 ml 35% formalin, 5 ml cairan gentian violet pekat dan aquadestilita sampai 1000 ml. Pewarnaan tidak diperlukan bila dipergunakan mikroskop fase kontras. Perlu digunakan 2 pengenceran untuk setiap sperma. Meskipun sering digunakan pipet leukusit tidak cukup tepat untuk digunakan sebagai alat pengenceran dan karena itu disarankan sebagai alat pengenceran dipergunakan pipet mikro modern (10, 50, 100 atau 200ul). Sperma yang diencerkan harus diaduk lebih dahulu dan segera dipindahkan ke hemositometer (kamar hitung Neubauer) yang telah ditutup dengan gelas penutup.
hemositometer ini diletakan kamar lembab selama 15 menit sampai 20 menit agar semua sel mengendap kemudian dihitung dibawah mikroskop cahaya atau mikroskop fase kontras dan pembesaran 100 atau 100X spermatozoa (sel benih yang matang yang mempunyai ekor yang dihitung). Perbedaan antara jumlah sperma dari kedua pengenceran tadi tidak boleh lebih dari 10 % pada sperma yang mempunyai densitas rendah atau 20% pada sperma yang mempunyai densitas tinggi (> 60 juta/ml).
Perlu dipahami bahwa yang disebut konsentrasi sperma adalah jumlah spermatozoa/ml sperma. Sedangkan jumlah spermatozoa total ialah jumlah spermatozoa dalam ejakulat.
Prosedur perhitungan spermatozoa dengan menggunakan hemositometer (kamar hitung Neubauer) adalah sebagai berikut :
Hitung jumlah sperma dengan objek 40 x pada daerah leukosit, cukup satu bidang saja (tidak perlu 4 bidang)

Kamar hitung Neubeur untuk menghitung spermatozoa

Perhitungan :
Luas = 1 mm2
Tinggi = 0,1 mm
Vol = 0,1 mm3
Jumlah sperma dalam 1 mm3 = 1/0,1 X pengenceran X N
= 10 X N X pengenceran
= 10 N X Pengenceran /mm3
Jumlah spermatozoa / cc = 10 N X Pengenceran x 1000

N = Jumlah sperma yang dihitung dalam kotak W

4. Morfologi
Pemeriksaan morfologi berdasarkan kepala dari spematozoa dapat dilakukan dengan cara :
Membuat preparat hapusan diatas obyek glass keringkan selama 5 menit, lalu di fixasi dengan larutan metilalkohol selama 5 menit, kemudian selanjutnya dilakukan pewarnaan dengan larutan giemsa, wright, atau zat warna yang lain menurut kesukaan sendiri.
Bentuk Normal :
 Bentuk oval



Bentuk spermatozoa abnormal :
 Bentuk Piri ( Seperti buah pir )




 Brntuk terato ( tidak beraturan dan berukuran besar )




 Bentuk lepto ( ceking )





 Bentuk Mikro ( Kepala seperti jarum pentul )






 Bentuk Strongyle ( seperti larva stongyloides )






 Bentuk Lose Hezel ( Tanpa kepala )



 Bentuk Immature ( spermatozoa belum dewasa, terdapat cytoplasmic )


Cytoplasmic droplet

Arti klinik
1. Banyak kepala normal / oval berarti fungsi testis baik
2. banyak bentuk bukan oval fungsi testis jelek
3. banyak sel imatur, epidemis banyak gangguan.
Misalnya : radang varicocle atau abstinensia seksualitasnya kurang lama.

5. Lekosit
Leukosit di laporkan per lapang pandang seperti halnya dalam sedimen urin, misalnya 3 – 8 perlapang pandang. Jumlah lekosit yang besar erat hubunganya dengan infeksi organ – organ spermiogenesis.

2.3. Analisa Sperma Secara Kimia
Pemeriksaan kimia terbatas pada perhitungan kadar fruktosa, nilai normal fruktosa adalah : Fruktosa tersebut berasal dari vesiculze Seminalis
Cara pemeriksaan Fruktosa :

Regensia :
1. Larurtan Ba(OH)2 0,3N
2. Larutan Zn SO4 0,175M
3. Larutan Resorcinol 0,1% dalam 100ml alkhohol 95%.
4. Standar fruktosa stock 50 mg fruktosa larut dalam 100 ml asam benzoat 0,2 %
Standar fruktosa 1 ml standar fruktosa stock diencerkan dengan H2O 100ml.
Konsentrasi 200 mg fruktosa / dalam mani.

Prosedur Kerja
1. Lakukan diproteinsasi mani yang akan diperiksa dengan terlebih dahulu mengencerkan 0.1 ml mani dengan 2.9 ml air. Kemudian tambah 0.5 ml larutan Ba(OH)2 campur tambahan 0.5 ml Zn SO4. kemudian dicentrifuqe.
2. Sediakan 3 tabung , satu tabung Tt (test) S (standar) dan B (banko)
Tabung T diisi 2 ml cairan pada langkah 1
Tabung S diisi 2 ml sebagai fruktosa
Tabung B diisi 2 ml aquadest
3. Ketiga tabung ditambah masing - masing 2 ml recorcinol dan 6 ml HCl
4. Campur isi tabung, panasi dalam weter bath 900 C selama 10 menit
5. Baca aboubusi T terhadap S pada 490 mm dengan spektrofotometer
6. Hitung kadar fruktosa dengan rumus AT / AS x 200 = mg/dl
Kadar Fruktosa sperma normal : 120 – 450 mg/dl


3. Interprestasi Hasil Analisa Sperma

ISTILAH Jumlah
Spermatozoa
(juta/ml) Motil
Normal
(%) Morfologi
Normal
(%)
1 Normozoospermia > 20 > 80 > 50
2 Oligozoospermia < 20 > 50 > 50
3 Ekstrim Oligozoospermia < 50 > 50 > 50
4 Asthenozoospermia > 20 < 50 > 50
5 Teratozoospermia > 20 > 50 < 50
6 Oligo Asthenozoospermia < 20 < 50 > 50
7 Oligi Astheno Teratozoospermia < 20 < 50 < 50
8 Oligo Teratozoospermia < 20 > 50 < 50
9 Astheno Teratozoospermia > 20 < 50 < 50
10 Polizoospermia > 250 > 50 > 50
11 Azoospermia Bila tidak ada spermatozoa dalam cairan sperma
12 Nekrozoospermia Bila semua sperma tidak ada yang hidup
13 Aspermia Tidak ada cairan semen yang keluar saat ejakulasi


sumber : http://infoanalis.blogspot.com/2009/01/analisa-sperma.html

Analisis Sperma pada Infertilitas Pria
Sekitar 10% dari pasangan suami-istri mengalami infertilitas 1,2,3,4. Faktor peyebab infertilitas berasal dari suami, istri, atau keduanya. Faktor lain dari kedua belah pihak sebesar 30--40%. Menurut penelitian yang dilakukan Lim dan Ratnam, faktor penyebab yang berasal dari suami sebesar 33%, sedangkan hasil penelitian WHO pada 1989 sebesar 40%. Penelitian yang dilakukan Arsyad terhadap 246 pasangan infertil di Palembang menunjukkan infertilitas yang disebabkan faktor pria sebesar 48,4%2.
Laboratorium klinik sangat berperan dalam diagnosis dan penatalaksanaan pria infertil1. Pemeriksaan laboratorium yang merupakan tulang punggung laboratorium andrologi dan laboratorium rumah sakit atau Assisted Reproductive Technology (ART) adalah analisis sperma dan pemeriksaan hormon1,3,4.
Analisis sperma dipakai untuk diagnosis evaluasi pre/post terapi medikal maupun surgikal infertilitas pria. Analisis sperma dipakai juga di laboratorium forensik guna penanggulangan kasus perkosaan, kasus penolakan orangtua terhadap bayinya, dan untuk menyaring pengaruh bahan racun/obat yang toksik pada organ reproduktif. Saat ini, banyak diminta pemeriksaan DNA untuk penanggulangan perkosaan4.
Dibukanya pusat-pusat pendidikan spesialis andrologi di beberapa universitas di Indonesia menghasilkan produk spesialis andrologi. Jumlah lulusannya meningkat, terutama di kota-kota besar. Keberadaan dokter spesialis ini memerlukan pengembangan pelayanan laboratorium klinik, khususnya bidang analisis sperma untuk melayani kebutuhannya. Dengan demikian, pada masa mendatang diramalkan permintaan analisis sperma akan meningkat.
Penulisan makalah ini bertujuan mencari kejelasan metode yang dipakai pada analisis sperma dan bagaimana strategi penggunaan analisis sperma, baik laboratorium analisis sperma rutin maupun laboratorium khusus untuk penatalaksanaan ART.
Definisi
Sebelum membahas lebih jauh mengenai peranan analisis sperma pada infertilitas pria, perlu dipahami dulu definisi dan pengertian dasar infertilitas. Fertilitas adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan bayi hidup serta kemampuan suami menghamilkannya3. Pasangan infertil adalah suatu kesatuan hasil interaksi biologik yang tidak menghasilkan kehamilan dan kelahiran bayi hidup2,3. Pasangan suami istri disebut infertilitas primer jika istri belum berhasil hamil walaupun bersanggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut3. Disebut pasangan infertilitas sekunder jika istri pernah hamil, akan tetapi tidak berhasil hamil lagi walaupun bersanggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut2,3. Adapun infertilitas idiopatik adalah bentuk infertilitas, yang setelah pemeriksaan lengkap kedua pasangan dinyatakan normal, dan ditangani selama 2 tahun tidak juga berhasil hamil. Pemeriksaannya meliputi pemeriksaan dasar infertilitas, HSG, uji pasca-sanggama, laparoskopi berikut hidrotubasi, dan sekurang-kurangnya 2 kali analisis sperma.
Kenyataan idiopatik pada tahap klinik ini dipertegas lagi dengan serangkaian uji imunologik dan uji fertilisasi in vitro (FIV) atau uji fertilisasi in vivo (secara TAGIT). Jika dengan cara-cara terakhir ini tetap gagal dan analisis sitogenetik dari gamet yang gagal difertilisasi atau zigot yang gagal berkembang menunjukkan hasil yang normal, maka keadaan inilah yang dikatakan sebagai keadaan idiopatik yang sesungguhnya3.
Kemajuan andrologi juga mempermudah klasifikasi penyebab infertilitas pria. Penyebab infertilitas pria diklasifikasikan berdasarkan gangguan produksi sperma, gangguan fungsi sperma, gangguan transportasi sperma, dan penyebab idiopatik2,6. Gangguan produksi sperma bisa terjadi pratestis, misalnya hipogonadisme, kelebihan estrogen, kelebihan androgen, kelebihan glukokortikoid, dan hipotiroidisme. Bisa terjadi pula di daerah testis, misalnya gangguan maturasi, hipospermatogenesis, sindroma sel sertoli, sindroma Klinefelter, kriptorkidisme, orkhitis, dan lain-lain. Kelainan di luar organ testis seperti varikokel dan hidrokel menyebabkan gangguan produksi sperma2.
Sebab infertilitas pria yang lain adalah gangguan fungsi sperma. Keadaan ini bisa disebabkan adanya pyospermia, hemospermia, adanya antibodi anti sperma, nekrozoospermia, dan astenozoospermia2,6.
Selain hal tersebut, infertilitas pria bisa disebabkan oleh gangguan transportasi sperma, antara lain kelainan anatomi dari saluran-saluran yang dilewati sperma. Kelainan anatomi itu bisa berupa agenesis vas deferens maupun vesika seminars, hipospadia dan epispadia, obstruksi vas deferens/epididimis yang bisa disebabkan TB epididimis, gonokokal epididimis, pasca trauma, klamidial epididimis, serta mikoplasma epididimis. Kelainan anatomi didapat bisa karena tindakan vasektomi2,6.
Pemeriksaan Laboratorium Analisis Sperma
World Health Organization (WHO) telah mempublikasikan petunjuk laboratorium analisis sperma sejak 1980. Kemudian dilakukan perbaikan edisi pada 1987 dan 1992. Edisi terbaru adalah edisi keempat tahun 1999. Pada edisi terakhir ini diperkenalkan prosedur laboratorium analis sperma standar untuk menetapkan diagnosis pria infertil, pengembangan pelayanan inseminasi buatan, pengembangan penelitian dan kemungkinan kontrasepsi pria, kemungkinan efek samping dari toksin maupun polutan lain, serta kedokteran forensik8.
Petunjuk laboratorium analis sperma edisi terbaru WHO 1999 sangat diperlukan karena berguna dalam pengembangan andrologi. Di dalamnya memuat jaminan kualitas pemeriksaan laboratorium yang ditingkatkan, pengembangan tes fungsi sperma, pemeriksaan semen otomatis, keberhasilan uji-coba WHO pada metode hormonal untuk kontrasepsi pria, perhatian terhadap toksin di lingkungan sekitar yang menyebabkan gangguan fertilitas pria berupa penurunan jumlah sperma dan frekuensi gangguan saluran kelamin, diakuinya penyebab genetik pada infertilitas pria, dan pengembangan besar pada menejemen infertilitas pria dengan infra cyloplusmic sperm injection (ICSI) 8.
Petunjuk laboratorium analisis sperma WHO 1999 secara umum berisi tentang: (1) Prosedur standar pemeriksaan semen yang meliputi deskripsi plasma semen, konsentrasi sperma, motilitas, morfologi, hitung sel selain sperma, dan tes antibodi yang melapisi sperma; (2) Jenis-jenis tes pilihan yang tidak rutin dilakukan, tetapi tergantung kebutuhan; (3) Jenis tes riset yang digunakan dalam laboratorium riset andrologi; (4) Garis besar teknik-teknik memisahkan sperma; (5) Cara melakukan kontrol kualitas laboratorium andrologi; (6) Metode yang lebih detail tentang tes interaksi mukus servikalis dengan sperma; (9) Tambahan-tambahan tentang nilai rujukan analisis sperma, petunjuk teknik pewarnaan sperma, persiapan tes immunobead, dan biokimia semen.
Perubahan besar dan modifikasi yang ada pada petunjuk laboratorium analisis sperma WHO 1999 ini adalah: Pertama, tentang kesalahan penghitungan dari aspek statistik (statistical aspects of counting errors). Saat ini direkomendasikan penghitungan 200 sperma dua kali untuk menghitung konsentrasi sperma, motilitas, dan morfologi. Dengan adanya peningkatan jumlah sperma yang dihitung (sebelumnya 100 sperma), akan memperbaiki akurasi hasil pemeriksaan. Kedua, tentang penghitungan motilitas sperma berdasarkan bergerak tidaknya dan kecepatan sperma bergerak. Diketahui panjang kepala sperma 5 ìm dan panjang ekor sperma 50 ìm. Jika sperma bergerak dengan kecepatan 5 kali panjang kepala sperma atau setengah kali panjang ekor sperma maka diperkirakan kecepatan sperma adalah 25 ìm/detik. Metode ini memiliki reprodusibilitas yang lebih baik daripada metode yang direkomendasikan sebelumnya8. Ketiga, tentang perubahan penilaian morfologi sperma yang lebih sederhana. Sebelumnya analisis harus mengidentifikasi dan menghitung bentuk-bentuk abnormal sperma selain bentuk normalnya. Saat ini hanya menentukan bentuk normal dan abnormal, tanpa harus menghitung detail dari bentuk-bentuk abnormal sperma. Keempat, tentang kontrol kualitas analisis sperma. Kontrol kualitas analisis sperma diperlukan untuk mendeteksi dan mengoreksi kesalahan sistematik serta variabilitas yang tinggi. Aktivitas kontrol kualitas disiapkan dengan satu laboratorium rujukan sebagai kontrol kualitas interna. Penetapan kualitas eksterna didasarkan pada hasil evaluasi sampel yang sama yang dievaluasi di beberapa laboratorium.
Pengambilan Sampel
Sebelum diambil, penderita diberi penjelasan tertulis tentang tatacara pengumpulan dan membawa semen ke tempat pemeriksaan. Semen diambil setelah abstinensi sedikitnya 48 jam dan tidak lebih lama dari tujuh hari. Nama, masa abstinensi, dan waktu pengambilan dicatat pada formulir yang dilampirkan pada setiap semen yang akan dianalisis. Untuk evaluasi awal, dilakukan pemeriksaan dua sediaan. Waktu antara kedua pemeriksaan tersebut bergantung pada keadaan setempat, tetapi tidak boleh kurang dari tujuh hari atau lebih dari tiga bulan. Semen diantar ke laboratorium dalam waktu satu jam sesudah dikeluarkan. Semen sebaiknya diperoleh dengan cara masturbasi dan ditampung dalam botol kaca bermulut lebar. Semen dilindungi dari suhu yang ekstrim selama pengangkutan ke laboratorium (suhu antara 20—400C) 4,7.
Makroskopik
Pertama kali sampel semen datang di laboratorium dilakukan pemeriksaan makroskopik. Semen normal tampak berwarna putih kelabu dan berbau seperti bunga akasia pada pagi hari11. Semen yang berbau busuk diduga disebabkan oleh suatu infeksi2,11. Dalam keadaan normal, semen mencair (liquefaction) dalam 60 menit pada suhu kamar. Dalam beberapa kasus pencairan tidak terjadi secara sempurna dalam 60 menit2,6. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada fungsi kelenjar prostat11. Untuk itu, semen segera diperiksa setelah pencairan atau dalam waktu satu jam setelah ejakulasi4.
Setelah diamati penampilannya, dilanjutkan dengan pengukuran volume semen. Volume semen diukur dengan gelas ukur atau dengan cara menghisap seluruh semen ke dalam suatu semprit atau pipet ukur. Nilai normal >/2,0 ml2,6. Jika volume semen terlalu sedikit maka tidaklah cukup untuk menetralkan keasaman suasana rahim. Dengan demikian, sperma yang berada di rongga rahim akan segera mati sehingga kehamilan tidak terjadi11. Volume dianggap abnormal jika semen < 2,0 ml.
Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan melihat konsistensinya. Untuk mengetahui konsistensi semen diukur dengan dua cara. Semen yang ada pada semprit diteteskan dari ujung jarum. Jika terjadi gangguan konsistensi maka tetesan membentuk benang yang panjangnya lebih dari 2 cm. Konsistensi juga diukur dengan cara memasukkan tangkai kaca ke dalam semen, kemudian mengamati benang yang terbentuk pada saat tangkai kaca tersebut dikeluarkan. Panjang benang > 2 cm dikatakan abnormal2,4,6. Semen yang terlalu encer maupun terlalu kental kurang baik bagi sperma. Pada semen yang mempunyai konsitensi tinggi, kecepatan gerak sperma akan terhambat. Dengan demikian, akan mengurangi kesuburan pria tersebut. Sebaliknya, semen yang terlalu encer biasanya mengandung jumlah sperma yang rendah sehingga kesuburan juga berkurang11.
Pemeriksaan makroskopik yang lain adalah pemeriksaan pH semen tersebut. Cara mengukur pH semen relatif mudah. Setetes semen disebarkan secara merata di atas kertas pH. Setelah 40 detik, warna daerah yang dibasahi akan merata, kemudian dibandingkan dengan kertas kaliberasi untuk dibaca pH-nya. pH semen normal yang diukur dalam waktu satu jam setelah ejakulasi berada dalam kisaran 7,2 sampai 7,8. Jika pH lebih besar dari 7,8 maka dicurigai adanya infeksi. Sebaliknya, jika pH kurang dari 7 pada semen azoospermia, perlu dipikirkan kemungkipan disgenesis vas deferens, vesika seminal, atau epididimis2,6,9.
Mikroskopik
Pada pemeriksaan mikroskopik, semen diperiksa morfologi, motilitas, jumlah sperma, adanya sel-sel bukan sperma, dan aglutinasi sperma. Motilitas sperma diperiksa dengan beberapa cara. Dalam beberapa tahun, telah diperkenalkan beberapa cara pemeriksaan ciri gerak sperma manusia yang objektif, termasuk pemotretan jangka waktu (time exposure) dan mikrografi komputer yang menggunakan kamera video serta cara-cara menggunakan teknologi laser7.
Cara klasifikasi sederhana yang biasa dipakai adalah bahan semen satu tetes dibubuhkan pada slide dan ditutup dengan gelas penutup. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop biasa, pembesaran 400 kali, kondensor diturunkan, cahaya minimal, atau memakai mikroskop fase kontras. Pemeriksaan dilakukan pada suhu kamar4.
Lapangan pandang diperiksa secara sistematik dan motililas sperma yang dijumpai dicatat. Kategori yang dipakai untuk mengklasifikasi motilitas sperma disebut (a), (b), (c), (d), dan didefinisikan sebagai berikut1,3,22: Kategori (a) jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka. Kategori (b) jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus. Kategori (c) jika tidak bergerak maju. Kategori (d) jika sperma tidak bergerak. Biasanya empat sampai enam lapangan pandang yang diperiksa untuk memperoleh seratus sperma secara berurutan yang kemudian diklasifikasi sehingga menghasilkan persentase setiap kategori motilitas. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang dengan tetesan sperma kedua yang diperlakukan dengan tatacara sama.
Pemeriksaan mikroskopik berikutnya adalah memeriksa jumlah sperma. Pemeriksaan dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara kasar dan penghitungan dalam kamar hitung. Penentuan secara kasar dilakukan dengan menghitung jumlah spermatozoa rata-rata pada beberapa lapangan pandang pembesaran objektif 40 kali, kemudian mengalikan angka tersebut dengan 106. Jika ada 40 sperma/lapangan maka jumlah sperma secara kasar kira-kira 40 juta/ml2,4,6.
Setelah menghitung jumlah sperma secara kasar, dilanjutkan pemeriksaan selular yang bukan sperma. Elemen bukan sperma juga dilihat antara lain sel epitel gepeng dari saluran uretra, sel spermatogenik, dan lekosit. Jumlah sel tersebut ditaksir dalam setiap lapangan pandangan pada sediaan basah seperti penghitungan jumlah sperma4.
Jika jumlah sel tersebut melebihi 1 juta/ml atau satu setiap lapangan pandangan dengan pembesaran objektif 40 kali, dilakukan pemulasan khusus untuk membedakan antara lekosit yang peroksidase positif dengan sel lain. Jika lekosit lebih dari 1 juta/ml mungkin perlu pemeriksaan untuk menentukan apakah orang tersebut menderita infeksi. Walaupun tidak ada sel lekosit, tidak mengesampingkan kemungkinan infeksi4.
Pada pemeriksaan mikroskopik berikut diperiksa adanya aglutinasi. Aglutinasi sperma berarti bahwa sperma motil saling melekat kepala dengan kepala, bagian tengah dengan bagian ekor, atau campuran bagian tengah dengan bagian ekor. Melekatnya sperma yang tidak motil atau motil pada benang mukus atau pada sel bukan sperma tidak boleh dicatat sebagai aglutinasi. Adanya aglutinasi merupakan petunjuk, tetapi bukan pasti akan adanya faktor imunologi sebagai penyebab infertilitas. Aglutinasi tidak tergantung banyaknya. Beberapa kelompok kecil sperma yang beraglutinasi sudah dianggap positif. Adanya aglutinasi pada analisis sperma perlu dikonfirmasi dengan uji imunologi MAR4.
Uji Biokimiawi
Uji biokimiawi dilakukan bila ada kelainan mikroskopik dan makroskopik. Uji biokimia menunjuk kepada fungsi kelenjar asesori, yaitu asam sitrat, gamma glutamil transpeptidase, dan fosfatase asam untuk kelenjar prostat. L. karnitin bebas dan alfa glukosidase untuk epididimis. Kadar petanda atau petanda khas yang rendah menggambarkan fungsi sekresi yang kurang baik, sehingga hal tersebut dipakai untuk menilai fungsi kelenjar asesori laki-laki. Suatu infeksi menyebabkan penurunan sekresi yang besar, tetapi nilai yang diperoleh untuk berbagai petanda masih dalam kisaran nilai normal yang besar. Suatu infeksi juga menyebabkan kerusakan pada epitel sekresi sehingga walaupun telah diberi pengobatan, kemampuan sekresi tetap rendah4,7,9.
Uji biokimiawi semen untuk menilai kemampuan sekresi prostat adalah mengukur kadar seng dan asam sitrat. Sekret kelenjar prostat merupakan bagian yang meliputi 15%-30% dari volume total semen. Sekret kelenjar prostat tidak berwarna, bening, dan bersifat asam lemah (pH 6,5), mengandung banyak sekali asam sitrat serta fosfatase asam11. Kadar seng dan asam sitrat memberi ukuran yang bisa dipercaya tentang sekresi kelenjar prostat. Antara seng, asam sitrat, dan asam fosfatase ditemukan korelasi yang baik, tetapi untuk kemudahannya hanya dua uji pertama yang sering dipakai7,9.
Selain pengukuran sekresi prostat, perlu juga dilakukan pemeriksaan kemampuan sekresi vesika seminal. Sekret vesika seminalis ini merupakan komponen yang banyak sekali digunakan untuk indikator dalam menangani kasus infertilitas. Komponen ini pada waktu diejakulasikan berbentuk kental, kaya akan karbohidrat dan protein11. Kemampuan sekresi vesika seminal bisa diketahui dengan pengukuran fruktosa. Penentuan fruktosa penting pada kasus duktus deferens, dan merupakan fraksi yang padat dengan spermatozoa. Cairan epididimis ini mengandung banyak sekali lipid dan glikogen. Di samping itu, mempunyai aktivitas fosfatase asam11. Uji biokimia semen untuk mengetahui kapasitas sekresi epididimis adalah pemeriksaan L karnitin. L karnitin bebas memberikan gambaran tentang fungsi sekresi epididimis7,9.
Uji Imunologi
Pemeriksaan uji imunologi dilakukan karena kecurigaan adanya antibodi pelapis sperma pada semen tersebut. Antibodi-pelapis sperma merupakan tanda khas dan patognomonik untuk infertilitas yang disebabkan faktor imunologi. Antibodi sperma dalam semen tergolong dua kelas imunologi, yaitu IgA dan IgG. Pengujian terhadap antibodi tersebut dilakukan pada semen segar dan menggunakan cara reaksi antiglobulin campuran , yaitu uji MAR (Mixed Antislobulin Reaction) atau cara butir imun (Immunobead) 4.
Uji MAR IgG dilakukan dengan mencampur semen segar dengan butir lateks atau sel eritrosit biri-biri yang dilapisi dengan IgG manusia. Suatu antiserum IgG manusia yang monospesifik kemudian dibubuhkan kepada campuran tersebut. Terbentuknya gumpalan campuran antara butir dan sperma motil merupakan bukti adanya antibodi IgG pada spermatozoa. Diagnosis infertilitas dengan sebab imunologi merupakan suatu kemungkinan jika 40% atau lebih sperma motil mempunyai partikel yang melekat. Kemungkinan infertilitas karena sebab imunologi perlu dipikirkan jika 10--40% sperma motil mempunyai partikel yang melekat. Uji tambahan seperti uji kontak sperma-getah servik (KSGS) dan titrasi antibodi sperma dalam serum akan memperkuat atau menolak diagnosis4.
Pemeriksaan imunologi semen yang lain adalah uji butir imun. Uji butir imun dilakukan untuk mengetahui adanya antibodi yang berada di permukaan sperma. Butir imun merupakan bola poliakrilamida dengan imunoglobulin kelinci-anti imunoglobulin manusia yang terikat secara kovalen. Adanya antibodi IgG dan IgA bisa diteliti sekaligus dengan uji ini4.
Sperma dicuci terlebih dahulu agar terbebas dari cairan semen dengan cara sentrifugasi dan kemudian diresuspensi dalam larutan dapar. Suspensi sperma kemudian dicampur dengan suatu suspensi butir imun. Proporsi sperma dengan antibodi permukaan kemudian ditentukan dan kelas antibodinya (IgG atau IgA) diidentifikasi dengan menggunakan 2 jenis butir imun4.
Jika uji butir imun positif maka perlu dilakukan uji tambahan seperti uji KSGS dan titrasi antibodi sperma dalam serum untuk memperkuat atau menolak diagnosis4.
Uji Mikrobiologi
Uji mikrobiologi dilakukan jika dicurigai ada infeksi mikroba pada semen tersebut. Semen yang akan dibiakkan dikumpulkan dengan melakukan perhatian khusus untuk mencegah kontaminasi. Sebelum mengumpulkan semen, penderita diminta mengeluarkan kencingnya terlebih dahulu. Segera setelah itu , ia mencuci tangannya dan genitalianya dengan sabun, kemudian membilasnya serta mengeringkannya dengan handuk bersih. Botol semen dalam keadaan steril. Biakan plasma semen membantu menegakkan diagnosis infeksi kelenjar asesori, terutama prostat. Biakan semen dilakukan jika penderita menunjukkan tanda atau gejala infeksi kelenjar asesori atau semen mengandung sel darah putih dalam jumlah lebih 1 juta/ml. Hasil biakan diinterpretasi dengan hati-hati. Uji-uji lain seperti pemeriksaan air seni pertama dan kedua serta cairan prostat yang diperoleh melalui pemijatan prostat dan air seni setelah pemijatan prostat, perlu dilakukan untuk menunjang diagnosis. Juga perlu dilakukan analisis biokimia semen. Pemeriksaan analisis sperma yang diuraikan tersebut masih menggunakan manual.
Otomatisasi
Saat ini telah diperkenalkan suatu alat analisis sperma otomatik menggunakan peralatan komputer (Computer-Aided Semen Analysis = CASA). Beberapa tahun terakhir alat ini telah dipakai. Pemeriksaan analisis sperma dengan CASA dapat menghitung konsentrasi sperma, motilitas sperma, dan morfologi sperma12. Pengembangan jumlah analisis sperma memungkinkan CASA akan digunakan luas dalam laboratorium analisis semen pada masa yang akan datang8,10.
Prosedur ART
Analisis sperma banyak dipakai pada teknologi bantu reproduksi (ART). ART adalah teknik bidang kedokteran untuk membantu proses reproduksi dengan cara mengatasi hambatan bertemunya spermatozoa dan oosit, sehingga memungkinkan terjadinya konsepsi pada pasangan infertil. Pelaksanaannya diperlukan persiapan sperma dan analisis berulang-ulang. Ada beberapa alasan cukup kuat mengapa sperma harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum digunakan dalam ART. Plasma semen mengandung faktor yang dapat mengurangi kemampuan fertilisasi spermatozoa. Plasma semen juga mengandung mikroorganisme dan sel-sel lain seperti lekosit yang mensekresi bahan-bahan yang dapat menghambat fertilisasi. Di samping itu, lebih efisien bila dilakukan inseminasi oosit hanya dengan spermatozoa berkualitas baik dan menyingkirkan yang jelek. Hal yang terpenting adalah pemisahan spermatozoa dari seminal plasma akan menginduksi terjadinya kapitasi.
Tujuan metode persiapan sperma adalah pemisahan spermatozoa motil dari plasma semen, dengan hasil tuaian semaksimal mungkin dan kerusakan pada sel spermatozoa seminimal mungkin. Selain itu, hasil persiapan sperma harus sebersih mungkin dari debris. Beberapa metode persiapan sperma adalah pencucian dan renang atas (PRA), swim up, migration gravity sedimentation, albumin column filtration, kolom bertingkat percoll (KBP), dan teknik migrasi ke samping (TMS). Secara rutin di laboratorium ART, metode persiapan sperma PPA dan KBP digunakan untuk inseminasi intra uterin dan fertilisasi in vitro, sedangkan TMS diperlukan untuk ICSI. Proses PRA berdasarkan kemampuan spermatozoa motil untuk migrasi dari endapan plasma semen menuju lapisan atas medium dan proses KBP untuk pemisahan spermatozoa yang berdasarkan pada filtrasi melalui partikel-partikel kolom percoll. Proses TMS berdasarkan kemampuan spermatozoa motil untuk migrasi secara horizontal.
Salah satu cara dari ART adalah TAGIT (Tandur Alih Gamet Intra Tuba) atau GIFT (Gamet Intra Fallopian Transfer). Prosedur ini mempertemukan sel benih (gamet), yaitu ovum dan sperma dengan cara menyemprotkan campuran sel benih itu memakai kanul tuba ke dalam bagian ampula. FIV atau bayi tabung adalah usaha fertilisasi yang dilakukan di luar tubuh, di dalam cawan biakan dengan suasana yang mendekati alamiah. Jika berhasil pada saat mencapai stadium morula, hasil fertilisasi ditanduralihkan ke endometrium rongga uterus3. Kedua tindakan ini memiliki indikasi dan syarat-syarat tersendiri. Tandur alih gamet intra tuba indikasinya infertilitas idiopatik, endometriosis ringan, sindroma Rokitansky-Klister-Hauser, tuba satu dengan ovarium kontralateral, infertilitas primer dengan umur di atas 35 tahun, dan oligozoospermia. Syaratnya tuba paten, uterus dan endometrium normal, ovarium berfungsi normal, serta ada sperma yang motil. FIV indikasinya infertilitas primer dengan umur lebih 35 tahun, gagal dengan TAGIT, oklusi tuba bilateral, donasi ovum, sindroma Rokitansky-Kuster-Hauser, infertilitas idiopatik yang gagal dengan TAGIT, dan oligozoospermia. Syaratnya uterus dan endometrium utuh, ovarium masih berfungsi normal, serta ada sperma yang motil3.
Karena dalam program ini diinginkan beberapa ova sekaligus, maka setiap pasien menjalani pemicuan ovulasi. Yang sering dipakai adalah klomifen dan gonadotropin. Pada keadaan tertentu, misalnya haid tak teratur, peninggian kadar gonadotropin (FSH, LH) dengan ovarium yang normal (sindroma ovarium resisten gonadotropin) dapat diberikan analog GnRH lebih dahulu untuk membendung pada tingkat hipotalamus. Kemudian ovulasi dapat dipacu dengan gonadotropin (dalam hal ini lebih baik dipakai FSH murni). Selama pemicuan ovulasi ini, dilakukan pemantauan secara hormonal terhadap kadar LH, E2, maupun dengan ultrasonografi. Apabila telah dicapai folikel matang dengan ukuran garis tengah 18--20mm dan kadar E2 dalam serum mencapai 1000--1500pg/ml, dilakukan penyuntikan hCG. Hal ini diikuti dengan aspirasi folikel untuk memperoleh beberapa ova, 32--35 jam kemudian3. Jika pasien adalah peserta TAGIT maka pada hari aspirasi folikel, 2--3 jam sebelumnya dilakukan pencucian sperma suami. Sperma ini kemudian diambil yang motil saja untuk bersama-sama dengan ova yang diperoleh dimasukkan ke dalam ampul saluran telur per laporoskopi. Jadi, dalam hal ini tidak dilakukan pembuahan di luar tubuh pasien. Diharapkan fertilisasi di ampula dapat terjadi secara alamiah3.
Jika pasien mengikuti program FIV, setelah beberapa ovulasi berhasil diperoleh dengan cara pencucian yang serupa, fertilisasi dilakukan di luar tubuh pasien, yaitu di dalam media biakan. Apabila fertilisasi berhasil maka pada stadium morula (8-12 sel), embrio yang sedang tumbuh itu dipindahkan (ditanduralihkan) ke rongga uterus (endometrium) memakai kanul khusus, pada hari ke 3--5 pasca aspirasi folikel. Selanjutnya, pasien diberi substitusi progesteron untuk memberi dukungan pada korpus luteum, sebelum fungsi produksi diambil alih oleh sel-sel trofoblas dari plasenta.
Pemantauan terhadap kemungkinan kehamilan dilakukan dengan pemeriksaan hCG darah atau urin. Meskipun teknik ini sangat canggih dan rumit, usaha ini belum tentu memberikan keberhasilan. Di pusat-pusat FIV, keberhasilan sekitar 30-35%. Akhir-akhir ini, teknik FIV menjadi titik perhatian karena cukup banyak aspek yang perlu dipikirkan dan cukup banyak disiplin ilmu yang terlibat. Yang lebih penting lagi, cara ini telah melibatkan banyak aspek hukum dan medikolegal3.
Analisis semen merupakan tes yang paling penting untuk menetapkan pria infertil. Karena dari analisis semen didapatkan informasi tentang siklus hormon reproduksi pria, spermatogenesis, dan terbukanya saluran repoduksi pria. Disebut azoospermia jika tidak ada spermatozoa sama sekali pada semen yang mungkin disebabkan pretestikuler, tesitikuler, dan post-testikuler. Oligospermia jika paremeter semen lain normal, kecuali jumlah spermatozoa yang jumlahnya di bawah 40 juta/ejakulat atau 20 juta/ml. Astenozoospermia diindikasikan jika motilitasnya kurang dari 50% yang progresif. Jika abnormalitasnya tunggal, kurang dari 20%, baru dianggap tidak normal. Teratozoospermia jika morfologi abnormal sperma lebih dari 50%. Keadaan ini lebih sering dijumpai sebagai abnormalitas campuran, misalnya oligoastenoteratozoospermia6.
Simpan Beku Sperma
Dalam penyediaan bahan untuk prosedur ART, terutama yang tertunda, diperlukan simpan beku sperma. Simpan beku sperma adalah penyimpanan sperma pada suhu sangat rendah (-1960C) dalam nitrogen cair. Sebelum dilakukan penyimpanan, sperma terlebih dahulu dicampur cryoprotectant. Sperma yang bisa dilakukan simpan beku meliputi sperma normal, sperma sub-normal, misalnya oligozoospermia ataupun sperma dari epididimis, sperma segar (native semen), atau sperma yang sudah disiapkan (washed semen). Semuanya ini memerlukan analisis sperma11.
Lingkup penggunaan simpan beku sperma dalam bidang reproduksi antara lain sebagai langkah profilaksis pada tindakan medis yang memungkinkan terjadinya penurunan kuantitas dan atau kualitas sperma dalam derajat yang bermakna, misalnya penggunaan kemoterapi pada kasus keganasan, tindakan pengamanan sperma sebelum dilakukan vasektomi karena kemungkinan terjadinya antibodi-antisperma (ASA), dan post-vasektomi yang dampaknya akan mengganggu kesuburan. Simpan beku sperma juga dilakukan pada kelainan oligozoospermia dengan cara kolektif sehingga bisa didapatkan tuaian lebih banyak dari pemrosesan beberapa ejakulat. Manfaat lain yaitu sebagai sarana pendukung (back up) laboratorium teknik bantu reproduksi, simpan beku sperma diperlukan keberadaannya11.
Dalam proses simpan beku sperma, perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain faktor laju perubahan suhu saat proses bekuan dan pencairan (thawing) serta konsentrasi cryoprotectant yang digunakan sehingga didapatkan tuaian normal. Cara pembekuan dilakukan perlahan-lahan dengan kecepatan penurunan suhu 10C per menit. Dengan demikian, spermatozoa akan mengalami proses eksoosmosis, yaitu keluarnya air intraseluler sampai terjadinya keseimbangan potensial kimia antara intraseluler dan ekstraseluler. Keluarnya air intraseluler menyebabkan peningkatan konsentrasi solut infra seluler dan menghindarkan toksik efek karena pembentukan es dalam sel. Berkaitan dengan hal tersebut, pada proses pembekuan perlu diperhatikan rentang suhu kritis, yaitu antara –40C sampai –600C. Di sini menggunakan cryoprotectant yang berfungsi memberikan proteksi spermatozoa terhadap suhu rendah sehingga kerusakan sel dapat dihindarkan. Adapun komponen utama cryoprotectant adalah gliserol yang mekanisme proteksinya adalah sebagai berikut: (1) menurunkan titik beku solut intraseluler; (2) interaksi dengan membran sel yang menyebabkan perubahan dari relatif cair menjadi kaku selama pembekuan; serta (3) mencegah terjadinya perubahan konsentrasi elektrolit intrasel dan ekstrasel dengan cara mengikat elektrolit dan sebagian air. Karena itu, konsentrasi tertentu dari gliserol, yaitu 7%, memberikan hasil yang terbaik. Digunakan thawing yang merupakan salah satu tahapan pekerjaan simpan beku, yaitu pengambilan sampel di mana terdapat peleburan dari kondisi beku menuju cair. Sampel sperma beku relatif toleran terhadap perubahan suhu saat thawing, bisa dengan kecepatan perubahan suhu 150C per menit. Yang perlu diperhatikan adalah suhu kritis saat thawing, yaitu antara –700C sampai –200C11. Setelah pencairan sperma, diperlukan analisis sperma untuk evaluasi jumlah dan viabilitasnya.

Analisa sperma merupakan salah satu pemeriksaan awal yang dilakukan pada kasus infertilitas (susah dapat anak). Masalah sperma (semen) terdapat pada lebih dari 1/3 pasangan infertil.

Pada saat dilakukan analisa, hal2 berikut diperiksa : volume, waktu mencairnya, jumlah sel sperma per mililiter, gerakan sperma, PH, jumlah sel darah putih dan kadar fruktosanya (gula). Hasil anlisa sperma bisa menetukan apakah : ada masalah reproduksi (infertilitas), vasektomi berhasil dan apakah reversal (menyambung kembali) vasektomi berhasil.

Sebelum dilakukan pengambilan sampel sperma (semen) harus melakukan abstinen/tidak mengeluarkan sperma/ ejakulasi 2 - 5 hari sebelumnya. Hal ini bertujuan agar sperma dalam kondisi paling oke. Jangan kelamaan, karena jika sampai 1-2 minggu maka justru sperma jadi kurang aktif. Di samping itu juga harus menghindari konsumsi alkohol.

Sample diambil tentunya dengan cara ejakulasi. Bisa dilakukan di lab atau di rumah / tempat lain dan membawanya dalam waktu tertentu ke lab. Cara paling sering adalah dengan masturbasi dan ditampung ke dalam wadah sampel. Cara lain adalah dengan senggama terputus (coitus interruptus), saat akan ejakulasi, P dicabut dan di arahkan ke wadah sampel. Sedangkan cara lainnya adalah dengan sampling dengan kondom (lewat senggama), dengan catatan kondom khusus. (kondom biasa harus di cuci dulu agar lubrikannya gak membunuh sperma)

Jika sampel diambil dirumah, maka sudah harus sampai di lab dalam waktu satu jam. Hindari sampel dari terkena sinar matahari langsung dan jangan terlalu panas/terlalu dingin. Jika udara dingin (di barat sono), simpan wadah penampungnya menempel di tubuh(dalam kantung jaket dll agar hangat). Jangan masukkanb kedalam lemari es. Agar hasil pemeriksaan lebih oke, dialkukan analisa 2-3 kali dengan hari yang berbeda dalam waktu 3 bulan.

Nilai normalnya bervariasi :

Volume Normal: minmal 2 mL - 6,5 mL per ejakulasi
Abnormal: Volume yang rendah atau bahkan yang berlebih dapat menyebabkan masalah kesuburan
Waktu mencair Normal: Kurang dari 60 menit
Abnormal: Masa mencair yang lama bisa merupakan tanda infeksi.
Jumlah sperma Normal: 20–150 juta per mL
Abnormal: Jumlah yang rendah kadang masih bisa menghasilkan keturunan secara normal.
Bnetuk sperma Normal: Minimal 70% memiliki bentuk dan struktur normal.
Abnormal: Sperma yang gak normal bentuknya kurang daru 15 % disebut Teratozoopsermia. Ini juga mempersulit kehamilan.
Gerakan sperma Normal: Minimal 60% sperma bergerak maju ke depan atau minimal 8 juta sperma per-mL bergerak normal maju ke depan.
Abnormal: Jika sebagian besar geraknya tidak normal akan menyebabkan masalah fertilitas.
pH Normal: Semen pH of 7.1–8.0
Abnormal: An abnormally high or low semen pH can kill sperm or affect their ability to move or to penetrate an egg.
Sel darah putih Normal: Tidak ada sel darah putih atau bakteri.
Abnormal: Bakteri dan sel darah putih yg banyak menunjukkan adanya infeksi.
Kadar fruktosa Normal: 300 mg per 100 mL ejakulat
Abnormal: Tidak adanya fruktosa memperlihatkan tidak adanya veikuls seminalis atau blokade pada organ ini.

Jika ditemukan jumlah sperma yang rendah atau tingginya abnormalitas, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pengukuran kadar hormon: testosteron, luteinizing hormone (LH), follicle-stimulating hormone (FSH), atau hormon prolaktin. Juga dilakukan biopsi testis (zakar) dalam kondisi yang sangat ekstrim (steril misalnya).

Faktor2 yang bisa mempengaruhi akurasi pemeriksaan :
• Obat2an (Cimetidine, sulfasalazine, nitrofurantoin)
• Kafein, alkohol, kokain, marijuana, dan merokok.
• Herbal seperti dosis tinggi echinacea.
• Sampel dingin/panas.
• Terkena radiasi .
• Tidak terkumpul sempurna (terbaik dengan masturbasi).
• Terlalau alam abstinen.


sumber: http://www.drdidispog.com/2009/06/analisis-sperma.html