Pengaruh Lemak Terhadap kesehatan

Selasa, 25 Januari 2011

laporan Hematologi semester III

HAPUSAN DARAH TEPI

I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan dari jenis-jenis lekosit

II.Metode
Metode yang digunakan pada pemeriksaan adalah metode pewarnaan giemsa, yaitu giemsa sebagai pewarna

III.Prinsip
Setetes darah dipaparkan diatas sebuah gelas obyek, kemudian dilakukan pewarnaan selanjutnya dievaluasi.

IV.Dasar Teori
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu ada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai: pembawa oksigen(oksigen carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme hemostatis. Darah terdiri atas dua komponen utama yaitu plasma darah yang merupakan bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah, sedangkankan butir darah (blood corpuscles)terdiri atas eritrosit, leukosit dan trombosit. Pada pembentukan eritrosit yang melalui tahapan sebagai berikut eritroblast, basophilic normoblas, policromatofilik normoblast, asidofilik normoblas, retikulosit dan eritrosit. Namun hanya retikulosit yang ditemukan pada darah tepi pada keadaan normal. Sedangkan pada pembentukan leukosit(jalur mieloid) pada awalnya mieloblast menjadi progranulosit(neutrofil), eosinofil maupun basofil selanjutnya menjadi promielosit kemudian menjadi metamielosit. Semua aktifitas ini secara normal dijumpai dalam sumsum tulang dan pada perkembangan di darah tepi akna menjadi stab/band serta segmen. Sedangkan trombosit terbentuk dari pecahan sitoplasma megakarioblast.

V.Alat dan Bahan
A.Alat
a.Gelas objek
b.Rak pewarna
c.Mikroskop

B.Bahan
a.Sampel darah EDTA
b.Alkohol 96% / Metanol
c.Oli imersi
d.Buffer phosfat pH 6,8
e.Giemsa

VI.Cara Kerja
a.Pembuatan Hapusan
1.Diteteskan satu tetes sampel daah pada salah satu ujung objek gelas
2.Peganglah gelas penghapus sedemikian rupa sehingga sampel darah berada pada sudut antara objek gelas dan gelas penghapus (300 – 450)
3.Dihapuskan gelas penghapus kearah tetesan darah sehingga menyentuhnya dan tetesan darah tadi akan merata antara ujung gelas penghapus dan objek
4.Digeser gelas penghapus sedemikian rupa kearah yang bertentangan degan arah pertama. Dengan demikian tetesan darah tadi akan merata di atas gelas obyek sebagai lapisan yang tipis
5.Hapusan ini segera dikeringkan dengan menggerak-gerakkan di udara tetapi jagan ditiup dengan hembusan nafas.

b.Pewarnaan Hapusan Darah Tepi
1.Difiksasi hapusan yang tleah kering dengan alcohol
2.Didiamkan selama 3 menit
3.Ditetesi larutan giemsa pada seluruh hapusan
4.Didiamkan 30 menit
5.Diambil hapusan dan dibiarkan kering
6.Diamati dengan mikroskop

VII.Data Hasil Praktikum
Morfologi leukosit
a. Adanya limfosit, stab, segmen dengan bentuk, ukuran dan warna yang normal
b. Adanya eritrosit dengan bentuk dan warna yang normal

VIII. Pembahasan
Ditemukan :
a.Eritrosit dengan ciri-ciri
1.Bentuk : bulat
2.Warna sitoplasma : merah jambu
3.Granularitas : tidak ada

b.Netrofil batang atau stab dengan ciri-ciri:
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : setengah lingkaran

c.Neutrofil segmen
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : berlobus

d.Limfosit
1.Bentuk sel : bulat, kadang-kadang oval
2.Warna sitoplasma : biru
3.Granularitas : tidak ada
4.Bentuk inti : bulat

Berdasarkan bentuk, warna dan jenis sel yang ditemukan adalah sel yang normal. Ini menunjukkan pasien ini memiliki sel-sel darah normokromik normositer.
IX. Kesimpulan
Setelah melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan yang didapat, pasien ini memiliki sel-sel darah normokromik normositer.



DIFFERENTIAL COUNT I
(HITUNG JENIS LEUKOSIT)

I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan

II.Metode
Metode yang digunakan dengan sediaan kering

III.Prinsip
Dalam evaluasi HDT dengan cara menghitung jenis lekosit dalam 100 lekosit dan dinyatakan dengan %

IV.Dasar Teori
Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit (differential count) adalah mengidentifikasi dan menghitung jenis leukosit sekurang kurangnya 100 sel dan dinyatakan dalam persen (%). Dalam penghitungan harus mengikuti tata cara pelaporan sebagai berikut:
 Eosinofi
 Basofil
 Stab
 Segmen
 Limfosit
 Monosit
Eosinofil pada pemeriksaan dibawah mikroskop akan tampak seperti kaca mata dengan sitoplasma merah dan bergrandula. Basofil, granulanya memenuhi inti , sangat jarang ditemukan hanya ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit berat. Stab tampak seperti cekungan atau tapal kuda. Segmen, tampak lobus-lobus yang telah memisahkan diri, minimal tiga. Limfosit tampak bulat memiliki inti padat. Sedangkan monosit tampak transparan seperti vakuola. (Oka,2007)

V. Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop
2.Bahan

B.Bahan
1.Oli Imersi
2.Sampel 5

VI.Cara Kerja
a.Dihidupkan mikroskop
b.Diperiksa hapusan untuk memeriksa tebah tipisnya hapusan dengan perbesaran 100x
c.Diperiksan jenis-jenis lekosit dengan perbesaran 1000x
d.Dihitung jenis-jenis lekosit
e.Disajikan dalam table

VII.Data Hasil Praktikum
Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml
Eosinofil
Basofil
Stab 3 2 3 1 2 3 1 2 1 20
Segmen 9 6 7 7 9 7 7 9 8 10 75
Limfosit 1 1 1
Monosit 1
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10

Netrofil =95%

Praktikum evaluasi darah tepi, ditemukan jenis-jenis lekosit:
a.stab/netrofil batang yang berjumlah 20 dalam 100 lekosit, cirri-cirinya:
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : setengah lingkaran

b.Segmen/netrofil batang yag berjumlah 75 dalam 100 lekosit
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : berlobus

c.Limfosit yang berjulah 2 dalam 100 lekosit
1.Bentuk sel : bulat, kadang-kadang oval
2.Warna sitoplasma : biru
3.Granularitas : tidak ada
4.Bentuk inti : bulat

d.Monosit yang berjulah 1 buh dalam 100 lekosit
1.Bentuk sel : bulat
2.Sitoplasma : ungu
3.Bentuk inti : sangat tidak teratur

Pada pemeriksaan ini, tidak menemukan basofil dan eosinofil

VIII.Pembahasan
Praktikum ini dengan ID sampel 1009230156 ditemukan jemlah netrofil (stab dan segmen) lebih banyak dari jumlah normal yaitu 95%. Hal ini menandakan pasien ini mengalami netrofilia yaitu jumlah netrofil diatas normal.
Netrofilia timbul karena infeksi sistemik (adanya bakteri, jamur, virus dan spirochaetes), kadang-kadang didahului oleh transient neutropenia. Kostikosteroid netrofil tetapi reaksi penderita terhadap infeksi lebih lemah karena mobiliasai netrofil ke jaringan menurun.
Jumlah netrofil ada darah tepi dipengaruhi oleh:
a.Netrofil yang masuk ke dalam sirkulasi darah
b.Netrofil yang keluar dari sirkulasi dara
c.Distribusnya
d.Kombinasi ketiga diatas

IX.Kesimpulan
Pasien ini mengalami netrofilia, karea memiliki jumlah netrofil di atas normal.






DIFFERENTIAL COUNT II
(HITUNG JENIS LEUKOSIT)

I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan dari jenis-jenis leukosit

II.Metode
Metode yang digunakan hapusan kering

III.Prinsip
Pemeriksaan ini dengan menghitung jenis lekosit dalam 100 lekosit dengan perbesaran 100 x

IV.Dasar Teori
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang aakn digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat,eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relative dari masing- masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolute dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total. Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari neutrofil segmen sedangkan pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan hapus ke sediaan lainnya, dari satu lapang pandang ke lapang pandang yang lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis leukosit didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per 1000 leukosit maka jumlah leukosit per mikro liter perlu dikoreksi. (dr. Boy,2010)
Hitung jenis leukosit(differential count) adalah nilai komponen-komponen sel penyusun sel darah putih. Jadi sel darah putih terdiri dari beberapa jenis sel yaitu eosinofil, basofil, stab, segmen, monosit, limfosit. Peningkatan leukosit biasanya disertai peningkatan salah satu atau lebih satu komponen. Mengetehui jenis komponen sel darah putih yang meningkat dapat membantu menentukan penyebab leukositosis.
Penyebab leukositosis berdasarkan hitung jenis: (Anonim, 2010)
 Neutrofilia
Adalah jumlah neutrofil yang meningkat melebihi nilai normal. Neutrofilia sebagian besar diakibatkan oleh infeksi bakteri. Selain itu neutrofilia dapat disebabkan oleh inflamatori bowel disease., rheumatoid arthritis, vaskulitis(Kawasaki syndrom), keganasan, pemberian kortikosteroid, splenektomi
 Limfositosis
Limfositosis adalah jumlah limfosit meningkat melebihi nilai normal. Penyebab limfositosis biasanya infeksi virus.
 Monositosis
Monositosis adalah monosit meningakat melebihi nilai normal. Monositosis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri.(tuberkolosis, endokarditis bakterial subakut, brucellosis, infeksi virus, sifilis, infeksi protozoa, infeksi riketsia, keganasan, sarkoidosis)
 Basofilia
Adalah jumlah basofil meningkat melebihi normal disebabkan oleh keganasan.
 Eosinofilia
Eosinofilia adalah jumlah eosinofil meningkat melebihi normal. Disebabkan oleh alergi, hipersensitivitas terhadap obat, infeksi parasit, infeksi virus, keganasan.

V.Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop

B.Bahan
1.Oli imersi
2.Sampel 5

VI.Cara Kerja
1.Dihidupkan mikroskop
2.Diperiksa hapusan untuk memeriksa tebal tipisnya hapusan dengan perbesaran 100x
3.Diperiksa dengan perbesaran 100x
4.Dihitung jenis-jenis lekosit
5.Disajikan dalam tabel

VII.Data Hasil Praktikum
Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml
Eosinofil 1 1 2 4
Basofil 0
Stab 2 1 2 5
Segmen 1 2 1 1 1 3 2 2 13
Limfosit 6 7 6 8 7 9 8 5 8 8 72
Monosit 2 2 1 1 6
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10

VIII.Pembahasan
Pada sampel 5 (hapusan yang telah disesiakan) didaptkan jumlah limfosit yang melebihi normal yaitu 72%. Sedangkan batas normal limfosit adalah 40%. Pasen ini mengalami limfositosis.
Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili mononukleosisinfeksiosa, infeksi kronik seperti tuberculosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limpoliferatif seoerti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia perifer.
Jumlah eosinofil dan monosit dalam keadaan normal. Pasien ini juga mengalami neropenia karena netrofil berjumlah kurang dari normal.


IX.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan, pasien ini memiliki jumlah limfosit yang lebih dari normal (limfositosis). Jumlah eosinofi, basofil dan monosit dalam keadaan normal.




DIFFERENTIAL COUNT III
(HITUNG JENIS LEKOSIT)

I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan dari jenis-jenis lekosit

II.Metode
Metode hapusan kering (sediaan kering) yang telah disediakan

III.Prinsip
Pemeriksaan hapusan degan mikroskop dengan menghitung jenis-jenis lekosit dalam 100 leukosit

IV.Dasar Teori
Penilaian kualitas HDT yang digunakan pada hitung jenis leukosit dilakukan dengan pembesaran kecil (objektif 10x) meliputi lapisan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah antara satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung endapan warna. Leukosit tidak boleh bergerombol pada bagian akhir HDT. Bila HDT tidak memenuhi syarat tersebut diatas maka harus dibuat HDT yang baru sehingga memudahkan untuk dievaluasi. Pemeriksaan dengan pembesaran kecil(objektif 10x) untuk penilaian kualitas HDT, penafsiran jumlah leukosit dan eritrosit, penafsiran hitung jenis leukosit,pemeriksaan adanya sel-sel muda yang abnormal. Sedangkn pada pembesaran 100x untuk eritosit untuk melihat kelainan atau variasi morfologi leukosit dilakukan untuk menghitung jenis leukosit dan mencari kelainan morfologi sedangkan untuk trombosit penafsiran dilakukan untuk melihat morfologi dan jumlahnya.
(oka, 2007)
Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit (differential count) adalah mengidentifikasi dan menghitung jenis leukosit sekurang kurangnya 100 sel dan dinyatakan dalam persen (%).
Dalam penghitungan harus mengikuti tata cara pelaporan sebagai berikut:
 Eosinofi
 Basofil
 Stab
 Segmen
 Limfosit
 Monosit
Eosinofil pada pemeriksaan dibawah mikroskop akan tampak seperti kaca mata dengan sitoplasma merah dan bergrandula. Basofil, granulanya memenuhi inti , sangat jarang ditemukan hanya ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit berat. Stab tampak seperti cekungan atau tapal kuda. Segmen, tampak lobus-lobus yang telah memisahkan diri, minimal tiga. Limfosit tampak bulat memiliki inti padat. Sedangkan monosit tampak transparan seperti vakuola. (Oka,2007)

V.Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop

B.Bahan
1.Oli imersi
2.Sampel 5

VI.Cara Kerja
a.Dihidupkan mikroskop
b.Diperiksa hapusan untuk memeriksa tebal tipisnya hapusan dengan perbesaran 100x
c.Diperiksa dengan perbesaran 100x
d.Dihitung jenis-jenis lekosit
e.Disajikan dalam tabel

VII.Data Hasil Pengamatan
Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml
Eosinofil 4 2 2 1 2 4 1 4 1 3 24
Basofil 0
Stab 1 1 2 1 2 7
Segmen 2 5 2 4 5 2 6 3 5 5 39
Limfosit 1 2 3 1 3 4 3 2 2 2 33
Monosit 2 3 2 7
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10


VIII.Pembahasan
Pada pemeriksaan hitung jenis lekosit, didapat:
a.Eosinofil yang berjumlah 24 dalam 100 lekosit
Ciri-cirinya:
1.Benuk sel : oval
2.Warna sitoplasma : merah
3.Terdapat benang kromatin
4.Jumlah normal 1-3%
Pada praktikum ini ditemukan eosinofil sebanyak 24 buah dalam 100 lekosit. Ini menandakan pasien ini mengalami eosinofilia. Eosinofilia sering dijumpai pada keadaan alergi. Histamine yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofil adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi dari parasit. Kelainan-kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.

b.Stab yang berjumlah 7
Ciri-cirinya:
1.Bentuk sel : bulat atau oval
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk ini :setengah lingkaran
5.Jumlah normal : 0-1%

c.Segmen yang berjumlah 39 dalam 100 lekosit
Ciri-cirinya:
1.Bentuk sel : bulat atau oval
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : berlobus
5.Jumlah normal : 50-65 dalam 100 lekosit
Ditemukan netrofil (stab+segmen) sebanyak 46 dalam 100 lekosit. Ini menandakan pasien ini mengalami netropenia. Penyeab neropenia adalah meingkatknya pemindahan netrofil dar peredaran darah dan gangguan pembentukan netrofil, infeksi virus, autoimun/idiopatik dan pengaruh obat juga mempengaruhi terjadinya netropenis.

d.Limfosit yang berjumlah 23 dalam 100 lekosit
Ciri-cirnya:
1.Bentuk : bulat, oval
2.Warna sitoplasma : biru
3.Granularitas : tidak ada
4.Bentuk inti : bulat
5.Jumlah normal : 25-40%
Limfosit pada pasein ini dalam keadaan normal

e.Monosit yang berjumlah 6 dalam 100 lekosit
Cirri-cirnya:
1.Bentuk : bulat
2.Sitoplasma : ungu
3.Inti : sangat tidak teratur
4.Jumlah normal : 4-10 dalam 100 lekosit
Jumlah monosit pada pasien ini normal.

IX.Kesimpulan
Berdasarkan yang telah dibahas diatas dapat disimpulakn bahwa pasien ini mengalami eosinofilia dengan jumlah eosinofil 24 juga mengalami netropenia dengan jumlah netrofil 46. Limfosit dan monosit berjumlah normal dan basofil tidak ditemukan.



PEMERIKSAAN ERITROSIT

I.Tujuan
Untuk mengetahui kelainan-kelaian bentuk sel darah merah (eritrosit) pada sampel (sediaan yang telah disediakan)

II.Metode
Metode yang digunakan metode sediaan kering

III.Prinsip
Pemeriksaan eritrosit dilakukan pada pembesaran 100 x, diamati bentuk-bentuk eritrosit

IV.Dasar teori
Eritrosit atau sering disebut sel darah merah merupakan sel yang berbentuk bikonkaf dengan jumlah: 4,5-6.100.000 per mikro liter, berat jenis 1,090 dengan pH 7,33-7,51 (rata- rata 7,4). Komposisi eritrosit terdiri dari 60% air, 28% hemoglobin ynang terdiri dari pigmen darah, sarana transport O2, 96% rantai globin dan 4% heme, 7% lemak serta sisa yang ada merupakan karbohidrat, elektrolit, enzim, metabolit.
Jumlah eritrosit dalam darah ditentukan oleh:
1.Umur eritrosit dalam aliran darah
2.Jumlah eritrosit yang hilang waktu perdarahan
3.Jumlah eritrosit yang dihasilkan oleh sumsum tulang
Ukuran eritrosit dapat:
1.Normal (normosit): anemia aplastik, perdarahan akut, anemia hemolitik,
2.Kecil (mikrosit): anemia defisiensi besi, anemia penyakit kronis,thalasemia, anemia sideroblastik
3.Besar (makrosit): anemia defisiensi folat dan B12
Adapun dalam pemeriksaan ditemukan adanya ukuran eritrosit bermacam-macam disebut dengan anisositosis. Sedangkan apabila bentuknya bermacam-macam disebut dengan poikilosistosis.

Untuk menentukan ukuran eritrosit dibandingkan dengan inti limfosit kecil,bila sama(normosit), lebih kecil (mikrositik), lebih besar(makrositik).
Untuk menentukan warna eritrosit dapat ditentukan dari diameter central pallor (CP) dibandingkan terhadap diameter eritrosit. Central pallor terjadi karena bentuk eritrosit yang bikonkaf sehingga terjadi cental pallor karenatipis dan kandungan Hb lebih sedikit akan tercat lebih pucat.
CP kurang dari sama dengan 1/3 diameter eritrosit = normokromik
CP lebih dari ½ diameter eritrosit = hipokromik
Tanda kerusakan eritrosit dapat teramati dengan adanya mikrosferosit, fragmentosit, Poikilosit, meningkatnya fragilitas osmotic eritrosit, tes positif untuk autohemolisis, umur eritrosit memendek (Mulyantari,2010).
Beberapa kelainan dan bentuk eritrosit:
 Mikrosit : diameter mikrosit jauh lebih kecil daripada limfosit kecil
 Makrosit : besar makrosit sebanding dengan limfosit
 Hipokrom : adanya central pallor yang menunjukkan lebih daripada sepertiga diameter eritrosit.
 Spherocytes : sferosit menunjukkan tidak adanya central pallor, tidak bikonkaf
 Sel target : sel darah merah yang mempunyai central gelap
 Stomatosit : kepucatan pada central berbebtuk segiempat
 Burr Cells : eritrosit dengan tonjolan sitoplasma
 Eliptosit : eritrosit yang berbentuk oval
 Basophilic stippling : adanya granula sitoplasma halus yang tersebar merata
 Pappenhelmer’s bodies : adanya granula biasanya terdapat pada pinggir eritrosit
 Howel-jolly bodies : adanya fragmen kromatin bulat yng tinggal dalam
 sitoplasma eritrosit dewasa.
 Cincin Cabot : adanya cincin cabot disebabkan kegagalan eritropoiesis
 dari bagian kumparan mitosis
 Sel sabit : memanjang dan melengkung dengan dua kutub meruncing
 Leptosit : daerah tengah dengan pucat yang besar dan sitoplasma
yang tipis
 Skistosit :eritrosit dengan bentuk tidak teratur
 Akantosit : adanya tonjolan sitoplasma runcing dan tidak teratur
 Lakrimosit : eritrosit yang berbentuk tetesan air mata.

V.Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop

B.Bahan
1.Sediaan kering
2.Oli Imersi

VI.Cara Kerja
1.Disipakan mikroskop
2.Diletakkan sediaan di meja sediaan
3.Diperiksa dengan perbesaran 100x
4.Diamati kenampakan yang terlihat
5.Dicatat hasilnya

VII.Data Hasil Pengamatan
Ditemukan:
a.Hipokrom
b.Burr Cell
c.Eliptosit
d.Sperosit
e.Tear Drop Cell
f.Basopilic stippling
g.Akantosit

VIII.Pembahasan
Pada praktikum pemeriksaan sel darah merah ini ditemukan:
a.Hipokrom
Ciri-cirinya pucat berlebihan pada bagian tengah, eritrosit melibihi sepertiga diameternya. Disebabkan hemolobinasi yang tidak ade kuat. Distribusi dalam darah <10% dari eritrosit dalam darah normal. Hal in dijumpai pada pasien yang kekurangan Hb dan pada anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang. Kelainan ini ditandai oleh anemia hipokromik mikrositer, besi serum menurun, TIBC meningkat, saturasi, tranferin menurun, ferin serum menurun, pengecatan besi sumsum tulang negated dan adanya respon terhadap pengobatan dengan preparat besi.

b.Burr Cell
Ciri-cirinya eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang teratur, sel biasanya bikonkaf. Distribusi dalam darah normal tidak ada. Ditemukan sel ini pada darah menunjukkan efek dari passage through fibri network.
Eritrosit dengan granula biru hitam, granula ini dari kondensasi atau presitipasi RNA ribosom akibat dari defective hemoglobin sintesis. Adanya basofil pada sel darah menandakan pasien tersebut mengalami talassemia. Talasemia adalah kelainan darah yag ditandai dengan sintesis hemoglobin abnormal.

c.Eliptosit
Ciri-cirnya eritrosit berbentuk lonjong atau elips. Distribusi dalam darah < 10% dalam darah normal. Dijumpai eliptosit pada darah menunjukkan pasien mengalami suatu penyakit.salah satunya sindroma mielodiplasi yaitu suatu kelainan sel induk hematopoiesis dengan karakterisktik adanya manifestasi kegagalan sumsum tulang dan kecendrungan mengalami transformasi leukemi akut disetai manifestas patologis morfologi (diplasi) dalam darah tepid dan sumsum tulang. Ditemukan pada pasien yang mengalami eliptositosis herediter.

d.Sperosit
Sperosit adalah eritrosit yang berbentuk lebih bulat,lebih kecil dan lebih tebal dari eritrosit normal. Ciri-cirinya: sperosit memiliki diameter lebih kecil daripada normal. Tanpa halo di tengah dan berwara lebih gelap. Dalam darah normal tidak ditemukan sperosit. Sperosit timbul akibat dari development defect. Ditemukan pada pasien yang menderita sperosit herediter.

e.Akantosit
Akantosit dengan ciri-ciri: eritrosit dengan tonjolan sitoplasma runcing dan tidak teratur seperti duri. Adanya dari sitoplasma mengakibatkan berkurangnya daerah pucat di tengah sel. Pada darah normal tidak ditemukan akantosit. Pada praktikum ini ditemukan akantosit yang merupakan akibat dari defisiensi low-dencity betha lipoproptein. Pasien yang mengalami sindroma meilodisplasi juga ditemukan akantosit. Penyebab sindroma mielodisplasi belum diketahui dengan pasti diduga karena apasan senyawa mutagen (benzene, obat-obatan akilating) dan radiasi.

f.Basofilic Stippling
Cirri-cirnya granula sitoplasma halus yang tersebar rata. Distribusi dalam darah <0,1% dari eritrosit dalam darah normal. Eritrosit dengan granula biru hitam, granula ini dari kondensasi atau presipitasi RNA Ribosom akibat defective hemoglobin sintesis. Adanya basofilik pada sel darah menandakan pasien tersebut mengalamai talasemia. Talasemia adalah kelainan darah yang ditandai dengan sintesis hemoglobin abnormal.

g.Tear Drop Cell
Ciri-cirina bentuk sel ini seperti tetes air mata. Pada darah normal tidak dijumpai sel ini. Hasil pemeriksaan menemukan tear drop sel, ini menunjukkan pasien mengalami sindrom hemolitik uremik (SHU) merupakan sekelompok gangguan heterogen dengan gejala klinis yang beragam dan berat.
Dengan ditemukan sel-sel ditas, darah penderita mengalami hipokrom mikrositer anisositosis.

IX.Kesimpulan
Pada praktikum ini ditemukan kelainan-kelainan eritosit antara lain:
1.Hipokrom
2.Burr Cell
3.Basofilic Stippling
4.Eliptosit
5.Sperosit
6.Akantosit
7.Tear drop sel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar