Pengaruh Lemak Terhadap kesehatan

Minggu, 25 September 2011

laporan Imunologi sesemter 4

TEST WIDAL

I. Tujuan
Untuk membantu menegakkan pemeriksaan demam typhosa.

II. Metode
Metode yang dipakai pada pemeriksaan ini adalah tabung aglutinasi. Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan secara cepat dan digunakan dalam prosedur penapisan sedangkan uji tabung membutuhkan teknik yang lebih rumit, tetapi dapat digunakan untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan.

III. Prinsip
Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.


IV. Dasar Teori
Pemeriksaan widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap antigen kuman Samonella typhi / paratyphi (reagen). Uji ini merupakan test kuno yang masih amat popular dan paling sering diminta terutama di negara dimana penyakit ini endemis seperti di Indonesia. Sebagai uji cepat (rapit test) hasilnya dapat segera diketahui. Hasil positif dinyatakan dengan adanya aglutinasi. Karena itu antibodi jenis ini dikenal sebagai Febrile agglutinin.
Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain pernah mendapatkan vaksinasi, reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp), reaksi anamnestik (pernah sakit), dan adanya faktor rheumatoid (RF). Hasil negatif palsu disebabkan antara lain : penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika, waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit, keadaan umum pasien yang buruk, dan adanya penyakit imunologik lain.
Demam typhoid (Typhoid Fever) merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi A,B dan C yang masih dijumpai secara luas di negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis.

Gejala Umum Demam Typhoid
Umumnya gejala klinis timbul 8-14 hari setelah infeksi yang ditandai dengan demam yang tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam yang khas adalah kenaikan tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam yang khas adalah kenaikan tidak langsung tinggi tetapi bertahap seperti anak tangga (stepladder), sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan (anoreksia), mual, muntah, sering sukar buang air besar (konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare. Pada pemeriksaan fisik didapatkan peningkatan suhu tubuh, debar jantung relatif lambat (bradikardi), lidah kotor, hepatomegali dan splenomegali, kembung (meteorismus), pneumomia dan kadang-kadang dapat timbul gangguan jiwa. Penyulit lain yang dapat terjadi adalah pendarahan usus, perforasi, radang selaput perut (peritonitis) serta gagal ginjal.
Petanda Serologi Demam Typhoid
Tubuh yang kemasukan Salmonella akan terangsang untuk membentuk antibodi yang bersifat spesifik terhadap antigen yang merangsang pembentukannya. Antibodi yang dibentuk merupakan petanda demam typhoid, yang dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Aglutinin O
Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang daripada aglutinin H atau Vi, karena pembentukannya T independent sehingga dapat merangsang limposit B untuk mengekskresikan antibodi tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin O ini lebih bermanfaat dalam diagnosa dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi dengan antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160 dinyatakan positif demam typhoid dengan catatan 8 bulan terakhir tidak mendapat vaksinasi atau sembuh dari demam typhoid dan untuk yang tidak pernah terkena 1/80 merupakan positif.
b. Aglutinin H (flageller)
Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam pembentukan memerlukan rangsangan limfosit T. Titer aglutinin 1/80 keatas mempunyai nilai diagnostik yang baik dalam menentukan demam typhoid. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam jangka 5-7 hari berguna untuk menentukan demam typhoid. Bila bereaksi dengan antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti kapas atau awan.
c. Aglutinin Vi (Envelop)
Antigen Vi tidak digunakan untuk menunjang diagnosis demam thypoid. Aglutinin Vi digunakan untuk mendeteksi adanya carrier. Antigen ini menghalangi reaksi aglutinasi anti-O antibodi dengan antigen somatik. Selain itu antigen Vi dapat untuk menentukan atau menemukan penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi atau kuman-kuman yang identik antigennya.
Diagnosis
Tidak adanya gejala-gejala atau tanda yang spesifik untuk demam typhoid, membuat diagnosis klinik demam typhoid menjadi cukup sulit. Di daerah endemis, demam lebih dari 1 minggu yang tidak diketahui penyebabnya harus dipertimbangkan sebagai typhoid sampai terbukti apa penyebabnya. Diagnosis pasti demam typhoid adalah dengan isolasi/kultur Salmonella typhi dari darah, sumsum tulang, atau lesi anatomis yang spesifik. Adanya gejala klinik yang karakteristik demam typhoid atau deteksi respon antibodi yang spesifik hanya menunjukkan dugaan demam typhoid tetapi tidak pasti.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalisa, kimia klinik, imunoserologi, mikrobiologi, dan biologi molekular. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis, memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit. (Simalab, 2007)
Pemeriksaan laoratorium untuk menunjang diagonsis demam typhoid meliputi :
A. Hematologi
Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri, mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama pada fase lanjut. Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia). Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis demam tifoid. (Prasetyo, 2006)
B. Urinalisa
Protein : bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam). Leukosit dan eritrosit normal; bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit.
C. Kimia Klinik
Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis Akut.
D. Imunologi

1) Widal Slide
Diagnosis Demam Tifoid / Paratifoid dinyatakan bila a/titer O = 1/160, bahkan mungkin sekali nilai batas tersebut harus lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di Indonesia. Titer O meningkat setelah akhir minggu.
2) ELISA Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM
Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam Tifoid atau Paratifoid. Sebagai tes cepat (Rapid Test) hasilnya juga dapat segera di ketahui. Diagnosis Demam Typhoid/ Paratyphoid dinyatakan : bila lgM positif menandakan infeksi akut dan jika lgG positif menandakan pernah kontak/ pernah terinfeksi/ reinfeksi/ daerah endemik.
3) Tes Tubex
Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang ditemukan pada Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat untuk diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit. (Prasetyo, 2006).
Tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih baik daripada uji Widal. Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%. Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar 89%. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan ideal, dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di negara berkembang.
E. Mikrobiologi Gall Culture
Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam Typhoid/ paratyphoid. Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid. Sebalikanya jika hasil negati, belum tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid, karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit kurang dari 2mL, darah tidak segera dimasukan ke dalam media Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan), saat pengambilan darah masih dalam minggu 1 sakit, sudah mendapatkan terapi antibiotika, dan sudah mendapat vaksinasi.
Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2-7hari, bila belum ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari). Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah, kemudian untuk stadium lanjut/ carrier digunakan urin dan tinja.
F. Biologi molecular
PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak dipergunakan. Pada cara ini di lakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensitifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. Spesimen yang digunakan dapat berupa darah, urin, cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi.
Penatalaksanaan
Sampai sekarang masih dianut trilogi penatalaksanaan demam typhoid, yaitu :
A) Pemberian antiboitik : bertujuan untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran
kuman.
B) Istirahat dan perawatan profesional : bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
C) Diet dan terapi penunjang (stomatitis dan suportif) : Pasien diberi bubur saring, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup mendukung keadaan umum pasien. Diharapkan dengan menjaga keseimbangan dan homeostasis, sistem imun akan tetap berfungsi optimal.
D) Prognosis
Terapi demam tifoid yang cocok terutama jika pasien perlu dirawat secara medis pada stadium dini, sangat berhasil. Tetapi juga tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi Salmonella , serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada anak anak 2,6%, dan pada orang dewasa 7,4%, rata – rata 5,7%.

Epidemiologi
Karena penyebab demam tifoid secara klinis hampir selalu Salmonella yang beradaptasi pada manusia, sebagian besar kasus dapat ditelusuri pada karier manusia. Penyebab yang terdekat adalah air atau makanan yang terkontaminasi oleh karier manusia. Penyakit ini jarang di temukan secara epidemik, lebih bersifat sporadis, terpencar – pencar di suatu daerah, dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang serumah. Di Indonesia demam tipoid dapat ditemukan sepanjang tahun dan insidens tertinggi pada daerah endemik adalah terjadi pada anak – anak.
Pencegahan
Pencegahan penyakit dilakukan terutama dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman, peningkatan hygiene pribadi, perbaikan sumber air untuk keperluan rumah tangga, peningkatan sanitasi lingkungan khususnya perbaikan cara pembuangan faeces manusia serta pemberantasan tikus dan lalat. Selain itu, pengawasan penjualan bahan makanan dan tempat pemotongan he

V. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Tabung reaksi
2. Rak Tabung
3. Sentrifuge
4. Objek gelas

B. Bahan
1. Larutan Nacl
2. Antisera
3. Serum Mahasiswa
Pasien:
Nama : Putu Ayu Suryaningsih
Umur : `19 tahun
Jenis kelamin : Perempuan

VI. Cara Kerja
a. Preparasi sampel darah mahasiswa
1. Diambil darah vena mahasiswa 5 cc
2. Diletakkan di tabung sentrifuge
3. Disentrifuge 3000rpm selama 15 menit
4. Diambil serumnya.

b. Pemeriksaan Widal dengan tabung aglutinasi
1. Disiapkan 7 buah tabung reaksi
2. Masing-masing tabung diisi 1,9 ml NaCL dan 0,1 ml serum
3. Dari tabung 1 dipipet 1 ml dipindahkan ke tabung 2 demikian seterusnya
4. Dipipet 10 µL sampel pada tabung dan diteteskan pada objek gelas
5. Diteteskan reagen (± 50 µL)
6. Dilihat aglutiniasi setelah 1 menit dan digoyang







Keterangan:
A = 10 µL serum
B = 1 tetes antisera


7. Dihentikan pemeriksaan jika mendapatkan hasil negative

Interpretasi hasil:
Tabung : I II III IV V VI VII
Reaktif : 1/20 1/40 1/80 1/160 1/320 1/640 1/1280

a. Cara kerja metode slide aglutinasi
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Diteteskan 20 µL serum pada masing-masing lingkaran yang ada pada slide (3 lingkaran)
3. Dipipet 1 tetes antisera A, B, D pada lingkaran-lingkaran tersebut




4. Diamati aglutinasi yang terjadi
5. Karena hasil positif, jadi dilanjutkan ke pengenceran selanjutnya

Keterangan:
A = 20 µL serum
B = 1 tetes antisera
6. Diteteskan 10 µL serum pada masing-masing lingkaran yang ada pada slide (3 lingkaran)
7. Dipipet 1 tetes antisera A, B, D pada lingkaran-lingkaran tersebut



Keterangan:
A = 20 µL serum
B = 1 tetes antisera

8. Diamati aglutinasi yang terjadi
9. Karena hasil positif, jadi dilanjutkan ke pengenceran selanjutnya
10. Diteteskan 10 µL serum pada masing-masing lingkaran yang ada pada slide (3 lingkaran)
11. Dipipet 1 tetes antisera A, B, D pada lingkaran-lingkaran tersebut



Keterangan:
A = 5 µL serum
B = 1 tetes antisera

Intrepretasi hasil
Reagen Sampel Hasil
1 tetes 20 µL 1/80
1 tetes 10 µL 1/160
1 tetes 5 µL 1/320

VII. Data Hasil Pengamatan
a. Hasil Pemeriksaan cara tabung aglutinasi
Salmonella O antigen group A : negative
Salmonella O antigen group B : negative
Salmonella O antigen group C : negative
Salmonella O antigen group D : negative
Salmonella H antigen group A : negative
Salmonella H antigen group B : negative
Salmonella H antigen group C : negative
Salmonella H antigen group D : negative

b. Hasil pemeriksaan dengan slide aglutinasi
a. Pengenceran 1/180
Salmonella H antigen group A : positif
Salmonella H antigen group B : positif
Salmonella H antigen group D : positif

b. Pengenceran 1/160
Salmonella H antigen group A : positif
Salmonella H antigen group B : positif
Salmonella H antigen group D : positif

c. Pengenceran 1/320
Salmonella H antigen group A : positif
Salmonella H antigen group B : positif
Salmonella H antigen group D : positif


VIII. Pembahasan
a. Pemeriksaan cara tabung aglutinasi
Pemeriksaan sampel darah dengan tes widal ini bertujuan untuk membantu menegakkan diagnose pada pasien demam tifoid.
Pada praktikum ini diperoleh hasil pemeriksaan sampel darah negative, ini menunjukkan sampel darah pasien tidak ditemui adanya antibody terhadap kuman salmonella pada tubuh. Pemilik sampel ini dalam keadaan sehat, praktikan mengetahuinya karena sampel yang dipakai dari sampel mahasiswa.
Praktikum ini menggunakan NaCl yang bertujuan saar pengenceran, antisera yang ditambahkan berguna untuk mengetahui aglutinasi atau tidak, karena antiresa akan berekasi dengan sampel, jika hasil positif akan terjadi aglutinasi. Pemeriksaan ini dihentikan karena hasil yang diperoleh negative, jika pemeriksaan ini dilanjutkan hasil yang diperoleh akan tetap negative.

b. Pemeriksaan cara slide aglutinasi
Pemeriksaan sampel serum yang dibawakan dari rumah sakit memperoleh hasil positif sampai pengenceran ketiga sampel yang diperiksa dengan antisera Salmonella H antigen group A, B dan D tetap hasilnya positif, hal ini menandakan adanya antibody terhadap kuman salmonella pada tubuh.
Hasil positif dilanjutkan ke pengenceran selanjutnya, ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan bakteri salmonella mencemari darah, seperti pemeriksaan yang diperoleh hasil positif hingga pengenceran 1/320 yang berarti kemungkinan dalam 1 ml darah terdapat 320 kuman salmonella.
Kelemahan uji widal ini yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil, akan tetapi uji widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid. Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karea belum ada kesepakata akan nilai standar aglutinasi. Beberapa hal yang sering disalah artikan:
a. Pemeriksan widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh, hal ini pengertian yang salah. Uji widal hanya menunjukkan adanya antibody terhadap kuman salmonella.
b. Pemeriksaan widal yang hilang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil potf diangga masih menderita tifus, hal ini juga pengertian yang salah. Setelah seseorag menderita tifus dan mendapatakan pengobatan, hasil uji widal tetap postif untuk waktu yang lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk menyatakan kesembuhan.
IX. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum didapat hasil sebagai berikut:
a. Pemeriksaan cara tabung aglutinasi memperoleh hasil negative
b. Pemeriksaan cara slide aglutinasi memperoleh hasil positif hingga pengenceran 1/320 yang menunjukkan kemungkinan dalam 1 ml dara terdatap 320 kuman salmonella.
Melalui praktikum praktikan dapat memahami cara pemeriksaan widal


















PEMERIKSAAN HEPATITS B

I. Tujuan
Untuk mengetahui pasien yang diperiksa (serum) mendetia hepatitis B atau tidak

II. Metode
Metode yag digunakan adalah metode kualitatif (rapid test)

III. Prinsip
Serum dipipet diletakkan pada tabung raksi, diisi stik test pada tabung, ditunggu 10 menit dan diamati.

IV. Dasar Teori
Antigen permukaan virus hepatitis B (hepatitis B surface antigen, HBsAg) merupakan material permukaan dari virus hepatitis B. Pada awalnya antigen ini dinamakan antigen Australia karena pertama kalinya diisolasi oleh seorang dokter peneliti Amerika, Baruch S. Blumberg dari serum orang Australia.
HBsAg merupakan petanda serologik infeksi virus hepatitis B pertama yang muncul di dalam serum dan mulai terdeteksi antara 1 sampai 12 minggu pasca infeksi, mendahului munculnya gejala klinik serta meningkatnya SGPT. Selanjutnya HBsAg merupakan satu-satunya petanda serologik selama 3 – 5 minggu. Pada kasus yang sembuh, HBsAg akan hilang antara 3 sampai 6 bulan pasca infeksi sedangkan pada kasus kronis, HBsAg akan tetap terdeteksi sampai lebih dari 6 bulan. HBsAg positif yang persisten lebih dari 6 bulan didefinisikan sebagai pembawa (carrier). Sekitar 10% penderita yang memiliki HBsAg positif adalah carrier, dan hasil uji dapat tetap positif selam bertahun-tahun.
Pemeriksaan HBsAg berguna untuk diagnosa infeksi virus hepatitis B, baik untuk keperluan klinis maupun epidemiologik, skrining darah di unit-unit transfusi darah, serta digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis. Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk menetapkan bahwa hepatitis akut yang diderita disebabkan oleh virus B atau superinfeksi dengan virus lain.
HBsAg positif dengan IgM anti HBc dan HBeAg positif menunjukkan infeksi virus hepatitis B akut. HBsAg positif dengan IgG anti HBc dan HBeAg positif menunjukkan infeksi virus hepatitis B kronis dengan replikasi aktif. HBsAg positif dengan IgG anti HBc dan anti-HBe positif menunjukkan infeksi virus hepatitis B kronis dengan replikasi rendah.
Pemeriksaan HbsAg secara rutin dilakukan pada pendonor darah untuk mengidentifikasi antigen hepatitis B. Transmisi hepatitis B melalui transfusi sudah hampir tidak terdapat lagi berkat screening HbsAg pada darah pendonor. Namun, meskipun insiden hepatitis B terkait transfusi sudah menurun, angka kejadian hepatitis B tetap tinggi. Hal ini terkait dengan transmisi virus hepatitis B melalui beberapa jalur, yaitu parenteral, perinatal, atau kontak seksual. Orang yang berisiko tinggi terkena infeksi hepatitis B adalah orang yang bekerja di sarana kesehatan, ketergatungan obat, suka berganti-ganti pasangan seksual, sering mendapat transfusi, hemodialisa, bayi baru lahir yang tertular dari ibunya yang menderita hepatitis B.
HBsAg dalam darah dapat dideteksi dengan tehnik enzyme immunoassay (EIA), enzyme linked immunoassay (ELISA), enzyme linked fluorescent assay (ELFA), atau immunochromatography test (ICT).
Spesimen yang digunakan untuk deteksi HBsAg adalah serum atau plasma heparin. Kumpulkan darah vena 3-5 ml dalam tabung tutup merah atau tutup kuning dengan gel separator, atau dalam tabung tutup hijau (lithium heparin). Pusingkan sampel darah, lalu pisahkan serum atau plasma untuk diperiksa laboratorium.
Spesimen yang ikterik (hiperbilirubin sampai dengan 500 µmol/l), hemolisis (kadar hemoglobin sampai dengan 270 µmol/l), dan lipemik (sampai dengan 30 mg/dl) dapat mempengaruhi hasil pembacaan.
Sampel dapat disimpan pada suhu 2-8oC selama 5 hari, atau -25 ±6oC sampai dengan 2 bulan.

Nilai Rujukan
Dewasa dan Anak-anak : Negatif

Masalah Klinis
HBsAg positif dijumpai pada : Hepatitis B, Hepatitis B kronis. Kurang Umum : Hemofilia, sindrom Down, penyakit Hodgkin, leukemia. Pengaruh obat : ketergantungan obat.

V. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Tabung reaksi dan raknya
2. Strip test

b. Bahan
1. Sampel serum mahasiswa
2. Sampel serum rumah sakit yang telah disediakan

VI. Cara Kerja
a) Preparasi sampel darah mahasiswa
1. Diambil darah vena mahasiswa 5 cc
2. Diletakkan di tabung sentrifuge
3. Disentrifuge 3000rpm selama 15 menit
4. Diambil serumnya.

b) Pemeriksaan HbsAg
a) Serum 10 µL dengan pipet mikro
b) Ditaruh di tabung reaksi
c) Strip test ditaruh di tabung reaksi
d) Ditunggu 10 menit
e) Diamtai hasilnya

VII. Data Hasil Pengamatan
a. Sampel rumah sakit diperoleh hasil reaktif










b. Sampel mahasiswa diperoleh hasil non reaktif






VIII. Pembahasan
Pemeriksaan HBsAg berguna untuk diagnose infeksi virus hepatitis B, baik untuk keperluan klinis maupun epidemiologic, skrining darah di unit-unit transfuse darah serta digunakan pada evaluasi terapi heaptits B kronis. Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk menetapkan bahwa hepatitis akut yang didertia disebabkan oleh virus B/superinfeksi dengan virus lain.
Praktikum pemeriksaan ini memperoleh hasil sampel dari mahasiswa hasil sampel dari mahasiswa non raktif dan sampel serum rumah sakit reaktif. Hal ini dilihat dari garis-gris yang muncul ketika pemeriksaan, hasil reaktif jika menghasilkan 2 garis merah dan hasil non reaktif menghasilkan satu garis pada daerah control. Pemeriksaan ini hanya melihat reaktif dan non reaktif sampel yang diperiksa, untuk membuktikan adanya viremia (virus dalam darah) tidak mungkin dilakukan, sedangkan untuk mneyatakan virus dalam tinja diperlukan pemeriksaan mikroskop electron.
Pemeriksaan HbsAg secara rutin dilakukan pada pendonor darah untuk mengidentifikasi antigen hepatits B. transmisi hepatitis B melalui transfuse sudah hamper tidak terfapat lagi berkat screening test HbsAg pada darah pendonor. Hal ini terkait dengan transmisi virus hepatititi B melalui beberapa jalur, yaitu parenteral, perinatal/kontak seksual.

IX. Kesimpulan
Pemeriksaan hepatitis serum diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Sampel mahasiswa diperoleh hasil non reaktif
b. Serum rumah sakit diperoleh hasil reaktif


DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010.Penyakit Thypus,http://www.jamu-herbal.com.diakses tanggal 15 maert 2011. Denpasar
Iwan.2009. Tes Widal untuk diagnose tifus.http://iwandarmansjah.blogspot.com.diakses yanggal 14 maret 2011.Denpasar
Anonym.2010.Uji widal.http://www.scribd.com.diakses tanggak 19 maret 2011.Denpasar
Anonim.2010.Virus Hepatitis (HBsAg).http://labkesehatan.blogspot.com.diakses tanggal 27 Maret 2011. Denpasar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar