Pengaruh Lemak Terhadap kesehatan

Minggu, 25 September 2011

Laporan Kimia Klinik Semester 4

PEMERIKSAAN ALBUMIN
Tujuan
Untuk mengetahui kadar albumin pada sample plasma

Metode
Praktikum ini menggunakan metode BCG (Bromcresol green)

Prinsip
Serum ditambahkan pereaksi albumin akan berubah warna menjadi hijau, kemudian diperiksa pada spektrofotometer. Intensitas warna hijau ini menunjukkan kadar albumin pada serum

Dasar Teori
Protein adalah suatu makromolekul yang tersusun atas molekul-molekul asam amino yang berhubungan satu dengan yang lain melalui suatu ikatan yang dinamakan ikatan peptida. Sejumlah besar asam amino dapat membentuk suatu senyawa protein yang memiliki banyak ikatan peptida, karena itu dinamakan polipeptida. Secara umum protein berfungsi dalam sistem komplemen, sumber nutrisi, bagian sistem buffer plasma, dan mempertahankan keseimbangan cairan intra dan ekstraseluler. Berbagai protein plasma terdapat sebagai antibodi, hormon, enzim, faktor koagulasi, dan transport substansi khusus (anonim,2010).
Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit mensintesis fibrinogen, albumin, dan 60 – 80 % dari bermacam-macam protein yang memiliki ciri globulin. Globulin-globulin yang tersisa adalah imunoglobulin (antibodi) yang dibuat oleh sistem limforetikuler (anonim,2010).
Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema(anonim,2010).
Rasio A/g merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi dua protein yang penting, yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan A/G adalah > 1.0. Nilai rasio yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, sedangkan rasio yang rendah ditemukan pada penyakit hati dan ginjal. Perhitungan elektroforesis merupakan perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara perhitungan rasio A/G(anonim,2010).
Penurunan Kadar albumin terjadi pada penderita sirosis hati, gagal ginjal akut, luka bakar yang parah, malnutrisi berat, preeklampsia, gangguan ginjal, malignansi tertentu, kolitis ulseratif, enteropati kehilangan protein, malabsorbsi. Pengaruh obat : penisilin, sulfonamid, aspirin, asam askorbat(anonim,2010).

Alat dan Bahan
Alat
Tabung reaksi
Rak tabung
Pipet ukur
Mikro pipet

Bahan
Perekasi:
Albumin BCG
Standar albumin
Bahan:
Sampel serum/plasma
Cara Kerja
Disiapkan alat dan bahan
Tes Standar Blanko
Pereaksi albumin (ml) 2,00 2,00 2,00
Serum/plasma (ml) 0,01 - -
Standar (ml) - 0,01 -
Aqua - - 0,01

Disampur, dibaca pada spektrofotometer
Perhitungan = Dt/Dst×kadar standar= g%


Data Hasil Pengamatan
Hasil pembacaan spektro:
Tes = 0,01
Blanko = 0
Standar = 0,03

kadar albumin pada sampel= Dt/Dst×kadar standar
kadar albumin pada sampel=0,01/0,03×3,9
= 1,29 g%

PEMBAHASAN
Praktikum pemeriksaan kadar albumin pada smpel serum bertujuan untuk menentukan kadar albumin dengan tujuan diagnosa penyakit. Pada pemeriksaan ini didapatkan kadar albumin 1,29 g%, ini menunjukkan hasil menurun dari nilai normal (3-4 gr/100 ml).
Penurunan kadar albumin disebut hipoalbumin. Hipoalbumin dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin, sintesis yang tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein, peningkatakan albumin karena penyakit lain dan inflamasi akut maupun kronis.
Malnutrisi protein
Asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat dari defisiensi intake protein terjadi kerusakan pada rediculum endoplasma sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalam sel hati.

Sintesis yang tidak efektif
Pada pasien dengan sirosis hepatitis terjadi penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu terjadi penurunan alirah darah portal ke hati yang menyebabkan maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati.

Kehilangan protein ekstravaskuler
Kehilangan protein masiv pada penderita sindrom nefrotik. Darah terjadi kebocoran protein 3,5 gram dalam 24 jam. Kehilangan albumin juga dapat terjadi pada pasien dengan luka bakar yang luas.

Hemodilusi
Pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin normal/meningkat.

Inflamasi akut dan kronis
Kadar albumin rendah karena inflamasi akut dan akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang. Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine sebagai akibat respons inflamasi pada sress fisiologis (infeksi, bedah, trauma) mengakibatkan penurunan kadar albmin melalui mekanisme berikut:
Peningkatan permeabilitas vaskuler
Peningkatan degradasi albumin
Enurunan sintesis albumin

Kesimpulan
Praktikum memperoleh hasil kadar albumin menurun yaitu 2,3 gr%. Hal ini menunjukkan pasien mengalami hipoalbumin.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Total protein. http://www.wordpress.com. Diakses tanggal 19 februari 2011. Denpasar




PEMERIKSAAN ALBUMIN DAN TOTAL PROTEIN

Tujuan
Untuk mengetahui kadar protein dalam serum
Untuk mengetahui kadar albumin dalam serum

Metode
Pemeriksaan Albumin
Menggunakan metode B. C. G
Pemeriksaan total protein
Menggunakan metode biuret

Prinsip
Pemeriksaan Albumin
Serum ditambahkan pereaksi albumin akan berubah warna menjadi hijau, kemudian diperiksa pada spektrofotometer. Intensitas warna hijau ini menunjukkan kadar albumin pada serum

Pemeriksaan Total Protein
Serum ditambahkan pereaksi biuret akan menghasilkan warna, dan ditunggu selama 30 menit, warna yang terbentuk akan dibaa pada spektrofotometer

Dasar Teori
Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar protein total, yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut dalam serum. Penetapan ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein berisi asam amino dan asam amino berisi nitrogen (anonim,2010).
Total protein terdiri atas albumin (60%) dan globulin (40%). Bahan pemeriksaan yang digunakan untuk pemeriksaan total protein adalah serum. Bila menggunakan bahan pemeriksaan plasma, kadar total protein akan menjadi lebih tinggi 3 – 5 % karena pengaruh fibrinogen dalam plasma (anonim,2010).
Cara yang paling sederhana dalam penetapan protein adalah dengan refraktometer (dipegang dengan tangan) yang menghitung protein dalam larutan berdasarkan perubahan indeks refraksi yang disebabkan oleh molekul-molekul protein dalam larutan. Indeks refraksi mudah dilakukan dan tidak memerlukan reagen lain, tetapi dapat terganggu oleh adanya hiperlipidemia, peningkatan bilirubin, atau hemolisis (anonim,2010).
Saat ini, pengukuran protein telah banyak menggunakan analyzer kimiawi otomatis. Pengukuran kadar menggunakan prinsip penyerapan (absorbance) molekul zat warna. Protein total biasanya diukur dengan reagen Biuret dan tembaga sulfat basa. Penyerapan dipantau secara spektrofotometri pada λ 545 nm. Albumin sering dikuantifikasi sendiri. Sedangkan globulin dihitung dari selisih kadar antara protein total dan albumin yang diukur (anonim,2010).
Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema (anonim,2010)
Rasio A/g merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi dua protein yang penting, yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan A/G adalah > 1.0. Nilai rasio yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, sedangkan rasio yang rendah ditemukan pada penyakit hati dan ginjal. Perhitungan elektroforesis merupakan perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara perhitungan rasio A/G (anonim,2010).

Nilai Rujukan
DEWASA : protein total : 6.0 - 8.0 g/dl; albumin : 3.5 - 5.0 g/dl
ANAK : protein total : 6.2 - 8.0 g/dl; albumin : 4.0 - 5.8 g/dl
BAYI : protein total : 6.0 - 6.7 g/dl; albumin : 4.4 - 5.4 g/dl
NEONATUS : protein total : 4.6 - 7.4 g/dl; albumin : 2.9 - 5.4 g/dl


Masalah Klinis
Protein total
PENURUNAN KADAR : malnutrisi berkepanjangan, kelaparan, diet rendah protein, sindrom malabsorbsi, kanker gastrointestinal, kolitis ulseratif, penyakit Hodgkin, penyakit hati yang berat, gagal ginjal kronis, luka bakar yang parah, intoksikasi air.
PENINGKATAN KADAR : dehidrasi (hemokonsentrasi), muntah, diare, mieloma multipel, sindrom gawat pernapasan, sarkoidosis.

Albumin
PENURUNAN KADAR : sirosis hati, gagal ginjal akut, luka bakar yang parah, malnutrisi berat, preeklampsia, gangguan ginjal, malignansi tertentu, kolitis ulseratif, enteropati kehilangan protein, malabsorbsi. Pengaruh obat : penisilin, sulfonamid, aspirin, asam askorbat.
PENINGKATAN KADAR : dehidrasi, muntah yang parah, diare berat. Pengaruh obat : heparin.

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Diet tinggi lemak sebelum dilakukan pemeriksaan.
Sampel darah hemolisis.

Alat dan Bahan
Alat
Tabung rekasi
Rak tabung reaksi
Spektrofotometer
Pipet mikro
Pipet ukur
Bahan
Serum
Pereaksi biuret
Larutan standar
Aquadest
Pereaksi albumin

Cara Kerja
Total protein
Disiapkan alat dan bahan
Tes Standar Blanko
Pereaksi biuret (ml) 2,5 2,5 2,5
Serum 0,05 - -
Standar - 0,05 -
Aquadest - - 0,05

Albumin
Disiapkan alat dan bahan
Tes Standar Blanko
Pereaksi albumin (ml) 2,00 2,00 2,00
Serum/plasma (ml) 0,01 - -
Standar (ml) - 0,01 -
Aqua - - 0,01

Disampur, dibaca pada spektrofotometer
Perhitungan = Dt/Dst×kadar standar= g%

Data Hasil Pengamatan
Albumin
Tes = 0,330
Blanko = 0
Standar = 0,44
kadar albumin pada sampel= Dt/Dst x kadar standar
kadar albumin pada sampel= 0,330/0,44×3,9
= 2,92 gr/100ml

Total protein
Tes = 0,339
Standar = 0,244
Blanko = 0

kadar total protein pada sampel=Dt/Dst×kadar standar
kadar total protein pada sampel=0,339/0,244×6,9
= 9,58 gr%

Praktikum II
Total Protein
Sampel LCS
Tes = 0,034
Standar = 0,491
Blanko = 0,000

kadar total protein pada sampel=Dt/Dst×kadar standar
kadar total protein pada sampel= 0,034/0,491×6,9
= 0,477 gr%

Serum
Tes = 0,0354
Standar = 0,491
Blanko = 0,000

kadar total protein pada sampel=Dt/Dst×kadar standar
kadar total protein pada sampel= 0,0354/0,491×6,9
= 4,9 gr %

Pembahasan
Praktikum pemeriksaan total protein dan albumin ini memperoleh hasil pada praktikum I albumin = 2,92 gr %, total protein serum 9,58 gr%. Praktikum II total protein LCS = 0,477 gr % dan sampel serum = 4,9 gr %.
Albumin pada sampel serum diperoleh 2,92 gr %, ini menunjukkan hasil menurun dari kadar normal (3-4,5 gr/100ml). Penurunan albumin disebut hipoalbumin, ini terjadi karena sintesis yang tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein.
Total protein yang diperoleh pada praktikum pertama adalah sebesar 8,58 gr%, ini menunjukkan hasil yang meingkat dari kadar normal (6,6-8,5 gram). Peningkatan total protein serum dijumpai pada dehidrasi terjadi hemokonsentrasi protein plasma.
Total proteinpada praktikum kedua sampel serum adalah 4,9 gr%, ini menandakan hasil menurun. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh daktor malnutrisi protein atau kekurangan intake protein dan kebiasaan pola hidup yang tidak sehat.
Total protein sampel LCS diperoleh 0,477 gr/100 ml, hasil ini meningkat karena kadar normal total protein LCS < 0,04 gr/dl. Kadar protein akan meingkat oleh karena hilangnya sawar darah otak (blood brain barries), reabsorbsi yang lambat atau peningkatakan sintesis imunoglobulin lokal. Sawardarah otak hilang biasanya terjadi pada keadaan peradangan. Iskemia bakterial trauma atau neovaskularisasi tumor. Perubahan kadar protein di cairan serebrospinal bersifat umum tetapi bermakna sedikit, bila dinilai sendirian akan memberikan sedikit nilai diagnostik pada infkesi susunan saraf pusat.

Kesimpulan
Praktikum ini memperoleh hasil sebagai berikut:
Pemeriksaan total protein pada praktikum I memperoleh hasil meningkat dari kadar normal yaitu 9,58 gr%
Pemeriksaan albumin memperoleh hasil menurun yaitu 2,92 gr%
Pemeriksaan total protein II memperoleh hasil:
LCS hasilnya meningkat yaitu 0,477 gr/dl
Serum hasilnya mnurun 4,9 gr%
Melalui praktikum ini, praktikan mengetahui cara pemeriksaan albumin dan total protein.

DAFTAR PUSTAKA
Riswanto.2009. Protein Darah. http://www.scribs.edu. Diakses tanggal 19 Maret 2011. Denpasar

PEMERIKSAAN GAMA GLOBULIN

Tujuan
Untuk mengetahui kadar gama globulin pada serum pasien

Metode
Biuret

Prinsip
Serum ditambahkan perekasi gama globulin, disentrifuge. Presipitat diteteskan NaCl yang akan menghasilkan warna, warna ini diperiksa pada spektrofotometer. Intensitas warna yang dibaca menunjukkan kadar gama globulin pada pasien.

Dasar teori
Gama globulin merupakan termasuk dalam globulin, yang diidentifikasi setelah elektroforesis protein serum. Gamma globulin kebanyakan signifikan dengan imunoglobulin (Igs), yang lebih dikenal dengan antibodi, meskipun beberapa Igs tidak merupakan gama globulin dan beberapa gama globulin tidak termasuk Igs (anonim,2010).
Suntikan gama globulin biasanya diberikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pasien terhadap penyakit. Suntikan yang sering digunakan pada pasien yang terkena hepatitis A tanpa memandang jenis darah. Suntikan juga digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada pasien yang tidak dapat menjasilkan gama globulin secara alami karenaadanya defisiensi imun, seperti link-agammaglobulinemia-x dan sindrom hiper IgM. Suntikan tersebut kurang praktis dan digantikan dengan menggunakan Vaksin hepatitis A (anonim,2010).
Gama globulin infus juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit imunologi, misalnya pupura trombositepenia idiopatik (ITP), suatu penyakit dimana trombosit terserang antibodi, menyebabkan jumlah platelet yang rendah. Gamma globulin menyebabkan limfa mengakibatkan antibodi-tag pada trombosit, sehingga memungkinkan untuk bertahan hidup (anonim,2010).


Alat dan Bahan
Alat
Tabung reaksi dan raknya
Spektrofotometer
Pipet ukur
Ball pipet
Mikro pipet

Bahan
Pereaksi gama globulin
Pereaksi biuret
Larutan NaCl 0,9%
Standar Protein
Sampel serum 583

Cara Kerja
Pengendapan protein
Dipipet 2,4 ml pereaksi gama globulin dalam tabung reaksi
Dipipet 0,1 ml serum, dicampur dengan membolak-balikkan tabung
Disentrifugasi selama ± 15 menit (bila sentrifugat tampak keruh tabung didinginkan dalam bak berisi es selama 1 jam)
Sentrifugat dituang hati-hati, tabung diletakkan terbalik diatas secarik kertas saring beberapa menit. Dibersihkan sisa-sisa sentrifugat yang melekat pada dinding tabung dengan kertas saring. Presipitat dipakai untuk pemeriksaan (supernatan sebanyak 0,1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebagai test).
Test Blanko Standar
Presipitat (ml) +++ - -
Larutan NaCl 0,9% (ml) 1 0,9 1,0
Standar protein - 0,1 -
Biuret 3 3 3

Dicampur, ditangguhkan 30 menit, dibaca pada spektrofotometer ada panjang gelombang 540 nm.

Data Hasil Pengamatan
Praktikum I
Test = 0,035
Blanko = 0
Standar = 0,02

kadar gama globulin pada sampel= Dt/Dst×kadar standar
kadar gama globulin pada sampel= 0,035/0,01×2 gr %
= 0,70 gr %

nilai normal =0,7 – 1,7 gr %

Praktikum II
Test = 21
Blanko = 0
Standar = 182

kadar gama globulin pada sampel= Dt/Dst×kadar standar
kadar gama globulin pada sampel= 21/182×2
= 0,23 gr %

Pembahasan
Pemeriksaan gama globulin pada serum bertujuan untuk mengetahui kadar gamaglobulin pada serum. Praktikum ini menggunakan pereaksi gama globulin yang berperan dalam pengendapan protein ketika serum disentrifugasi.
Pada praktikum I didapatkan gama globulin sebesar 0,7 gr %, hal ini hasil yang salah, praktikan tidak tepat dalam memipet dengan pipet mikro, sehingga menimbulkan hasil yang salah. Sehingga praktikum ini harus diulangi.
Pada praktikum II didipatkan gama globulin sermu sebesar 0,23 gr %. Hasil ini menunjukkan angka menurun dari kadar normal (0,7 – 1,7 gr %). Ini menunjukkan pasien mengalami hypogamaglobunimea yaitu gangguan imunodefisiensi dimana produksi ekebalan tubuh terhambat.
Praktikum pemeriksaan gamma globulin ini menggunakan sampel serum yang disentrifuse, endapan yang terbentuk dari campuran larutan gama globlin dengan serum menunjukkan serum positif protein, sehingga pemeriksaan bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Pemipetan juga sangat mempengaruhi hasil, pemipetean yang salah akan menghasilkan hasil yang menyimpang.

Kesimpulan
Praktikum ini memperoleh hasil 0,23 gram (praktikum II) yang menunjukkan pasien mengalami hipogammaglobulinemia. Melalui praktikum ini, praktikan bisa mengetahui cara pemriksaan gama globulin serum

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Gammaglobulin. http://wikipedia.edu. Diakses tanggal 1 april 2011. Denpasar

PEMERIKSAAN BILIRUBIN DIRECT DAN TOTAL BILIRUBIN

Tujuan
Untuk mengetahui kadar blirubin direct dan bilirubin total pasien

Metode
Jenddrask Groff

Prinsip
Bilirubin akan bereakdi dengan diazotized sulfanilic acid (DSA) membentuk zat warna merah, absorban zat warna merah ini pada 530 nm adalah proporsional terhadap konsentrasi bilirubin dalam saple. Bilirubin glukoronida yang larut dalam air bereaksi langsung (direk) dengan DSA, sedangkan bilirubin yang terikat pada albumin bereaksi tidak langsung/indirek dengan DSA.

Dasar Teori
Bilirubin adalahpigmenkuning yang berasaldariperombakanhemedari hemoglobin dalam proses pemecahaneritrositolehselretikuloendotel. Di sampingitusekitar 20% bilirubin berasaldariperombakanzat-zat lain. Selretikuloendotelmembuat bilirubin tidaklarutdalam air; bilirubin yang disekresikandalamdarahharusdiikatkankepada albumin untukdiangkutdalam plasma menujuhati. Di dalamhati, hepatositmelepaskanikatanitudanmengkonjugasinyadenganasamglukoronatsehinggabersifatlarut air. Proses konjugasiinimelibatkanenzimglukoroniltransferase (anonim,2010).
Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronidaatauhepatobilirubin) masukkesaluranempedudandiekskresikankeusus. Selanjutnya flora ususakanmengubahnyamenjadiurobilinogendandibuangmelaluifesessertasebagiankecilmelaluiurin. Bilirubin terkonjugasibereaksicepatdenganasamsulfanilat yang terdiazotasimembentukazobilirubin (reaksi van den Bergh), karenaituseringdinamakan bilirubin direkatau bilirubin langsung (anonim,2010).
Bilirubin takterkonjugasi (hematobilirubin) yang merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin haruslebihduludicampurdenganalkohol, kafeinataupelarut lain sebelumdapatbereaksi, karenaitudinamakan bilirubin indirekatau bilirubin tidaklangsung (anonim,2010).
Peningkatankadar bilirubin direkmenunjukkanadanyagangguanpadahati (kerusakanselhati) atausaluranempedu (batuatau tumor). Bilirubin terkonjugasitidakdapatkeluardariempedumenujuusussehinggaakanmasukkembalidanterabsorbsikedalamalirandarah (anonim,2010).
Peningkatankadar bilirubin indirekseringdikaitkandenganpeningkatandestruksieritrosit (hemolisis), sepertipadapenyakithemolitikolehautoimun, transfusi, ataueritroblastosisfatalis. Peningkatandestruksieritrosittidakdiimbangidengankecepatankunjugasidanekskresikesaluranempedusehinggaterjadipeningkatankadar bilirubin indirek (anonim,2010).
Hatibayi yang barulahirbelumberkembangsempurnasehinggajikakadar bilirubin yang ditemukansangattinggi, bayiakanmengalamikerusakanneurologispermanen yang lazimdisebutkenikterus. Kadar bilirubin (total) padabayibarulahirbisamencapai 12 mg/dl; kadar yang menimbulkankepanikanadalah> 15 mg/dl. Ikterikkerapnampakjikakadar bilirubin mencapai> 3 mg/dl. Kenikterustimbulkarena bilirubin yang berkelebihanlarutdalam lipid ganglia basalis (anonim,2010).
Dalamujilaboratorium, bilirubin diperiksasebagai bilirubin total dan bilirubin direk. Sedangkan bilirubin indirekdiperhitungkandariselisihantara bilirubin total dan bilirubin direk. Metodepengukuran yang digunakanadalahfotometriatauspektrofotometri yang mengukurintensitaswarnaazobilirubin (anonim,2010).
NilaiRujukan(anonim,2010)
DEWASA : total : 0.1 – 1.2 mg/dl, direk : 0.1 – 0.3 mg/dl, indirek : 0.1 – 1.0 mg/dl
ANAK : total : 0.2 – 0.8 mg/dl, indirek : samadengandewasa.
BAYI BARU LAHIR : total : 1 – 12 mg/dl, indirek : samadengandewasa.
MasalahKlinis(anonim,2010)
Bilirubin Total, Direk
PENINGKATAN KADAR : ikterikobstruktifkarenabatuatauneoplasma, hepatitis, sirosishati, mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson. Pengaruhobat : antibiotic (amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obatantituberkulosis ( asampara-aminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretic (asetazolamid, asametakrinat), mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturate, narkotik (kodein, morfin, meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin, prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K.
PENURUNAN KADAR : anemia defisiensibesi. Pengaruhobat : barbiturate, salisilat (aspirin), penisilin, kafeindalamdosistinggi.
Bilirubin indirek
PENINGKATAN KADAR : eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse, malaria, anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis terdekompensasi, hepatitis. Pengaruh obat : aspirin, rifampin, fenotiazin (lihat biliribin total, direk)
PENURUNAN KADAR : pengaruh obat (lihat bilirubin total, direk)

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Makan malam yang mengandung tinggi lemak sebelum pemeriksaan dapat mempengaruhi kadar bilirubin.
Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin.
Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Sampel darah yang terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen empedunya akan menurun.Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar